04:25:29 WIB
Kamis, 29 Juni 2017
Jum'at, 20 Mei 2016 , 20:26 WIB

Apakah Masih Merah Putih Darahmu Jenderal

Luska Mujidayanti
76774-Siswa SMAN 24.(Ist)
Siswa SMAN 24.(Ist)

Menjadi manusia Merah Putih haruslah berani berkorban, terus mengabdi sampai akhir, saya jadi bertanya apakah sudah digadaikan jiwa nasionalismemu? Apakah masih merah putih darahmu bapak jenderal ?

JAKARTA, Jaringnews.com - Mahdadi adalah seorang guru di SMAN 24 Kutabumi, Tangerang. Saat sedang mendampingi tim penyuluhan tentang bela Negara dari bapak-bapak TNI AD saat TMMD ke sekolah tempat Mahdadi mengajar, tiba-tiba Mahdadi terkejut dengan pengakuan dari salah satu anak didiknya ketika ditanya tentang cita-citanya oleh tim TMMD. Mendengar kalimat nasionalisme muridnya tersebut, Mahdadi yakin kelak anak didiknya ini akan menjadi seorang patriot pembela bangsa.  

Ternyata usai membaca berita di jaringnews.com, Mahdadi kemudian berinisiatif  menulis Surat pembaca yang kemudian dikirimkan ke redaksi jaringnews.com ini adalah terkait dengan pernyataan Gubernur Lemhanas yang sangat memukul jiwa seluruh para prajurit TNI, dimana kalimat sang Jenderal ini sangat bertolak belakang dengan kalimat seorang anak ingusan yang masih miskin akan pengalaman. 

Berikut isi surat Pembaca dari Mahdadi :

Adalah M.Kahfi seorang Siswa Sekolah Menengah Atas yang duduk dibangku Kelas 1 SMAN 24 Tangerang, punya cita-cita ingin jadi pahlawan bangsa.

Saat  ditanya kenapa ingin menjadi seorang pahlawan ? Khafipun menjawab  “Jika menjadi seorang pahlawan, akan selalu dikenang sepanjang masa. Lagi pula, bisa membela Negara di medan tempur sambil angkat senjata, keren kan?, dari pada menghabiskan uang rakyat demi kepentingan pribadi”. Itulah dialog yang terekam diingatan, ketika sekolah kami kedatangan tim penyuluhan tentang bela Negara dari bapak-bapak TNI AD saat TMMD.

Takjub dan bangga serta sedikit terkejut pada bagian akhir kalimatnya, sebagai guru saya hanya bisa tersenyum manis padanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. ternyata, masih ada  anak usia 16 tahun punya cita-cita yang besar. Besar karena tugas yang diemban pahlawan, adalah tugas yang besar. Tidak sembarang orang pada zaman ini rela berkorban tanpa pamrih layaknya pahlawan.

Aku lahir dan besar di lingkungan asrama TNI AD, bapakku terakhir berdinas sebagai babinsa dengan pangkat sersan mayor. Masih terekam jelas diingatan, ketika Bapakku menceritakan tentang lepasnya Timor Timur (sekarang Timor Leste). Betapa banyaknya pasukan yang dikirim ke Timor Timur wafat. Mereka yang dikirim adalah putra terbaik yang dimiliki pribumi dari seluruh penjuru nusantara yang optimis mampu mempertahankan kesatuan NKRI. Dengan penuh keberanian, tanpa rasa takut kematian yang bisa saja menghampiri, mereka tetap saja pergi ke Timor Timur menjalankan tugas yang diamanatkan oleh bangsa kepada mereka. Walau akhirnya rasa kecewa yang mereka dapatkan ketika Timor Timur lepas dari NKRI meski nyawa prajurit sudah tak terhitung lagi yang wafat dalam medan pertahanan.

Sebagai seorang anak tentara, saya tahu menjadi seorang prajurit sangatlah berat, menjaga keutuhan NKRI dan keselamatan segenap warga negaranya. Mereka adalah orang-orang terpilih dan pilihan yang berani berkorban dan terus mengabdi dengan jiwa merah putih didadanya yang akan tertanam sampai akhir hayatnya.

Namun beberapa minggu terakhir ini saya sedih menyaksikan mantan pucuk pimpinan TNI, yang bernama Jenderal agus muncul dengan pernyataan-pernyataannya yang menimbulkan keresahan di lingkungan prajurit. Pengorbanan jiwa raga prajurit demi utuhnya NKRI dari pemberontakan PKI bapak anggap sepi... Pengabdian tulus babinsa sampai pelosok negeri bapak anggap sunyi. Jangan sampai demi kepentingan pribadi maupun kelompok, kepentingan bangsa dan Negara dilupakan. Menjadi manusia Merah Putih haruslah berani berkorban, terus mengabdi sampai akhir, saya jadi bertanya apakah sudah digadaikan jiwa nasionalismemu? Apakah masih merah putih darahmu bapak jenderal ?

-Mahdadi-
Guru SMAN 24 Kutabumi Tangerang.

Sebelumnya telah diberitakan, kekecewaan ini bermula ketika Gubernur Lemhanas Agus Widjojo  mengisi acara sebagai pembicara di Gedung Lemhanas pada Senin (16/5). Sebagai tokoh utama dalam acara tersebut, Agus menyampaikan dua hal pokok masalah yaitu konsep Reformasi TNI dan konsep Rekonsiliasi Bangsa, dalam pandangannya sebagai Gubernur Lemhannas.

Agus mengatakan bahwa TNI tidak boleh lagi melakukan kegiatan di luar “Pertahanan/Perang” kecuali seijin Presiden termasuk Koter cukup ditingkat Korem saja. Tidak  perlu ada  Kodim, Koramil Babinsa dan seterusnya. Kemudian dia menjelaskan tentang Rekonsiliasi Bangsa sikap terhadap PKI khususnya.
 

 

( Lus / Deb )

Komentar

Terkini