04:24:28 WIB
Kamis, 29 Juni 2017
Rabu, 18 November 2015 , 06:07 WIB

Kementerian Pariwisata: Festival Budaya Banda 2015 Harus Jadi Agenda Tahunan

Johannes Sutanto de Britto
73520-Asisten Deputi Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintahan Kementrian Pariwisata, Tazbir membuka Festival Akbar Budaya Banda 2015 (Foto: REQComm)
Asisten Deputi Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintahan Kementrian Pariwisata, Tazbir membuka Festival Akbar Budaya Banda 2015 (Foto: REQComm)

Festival ini bisa menjadi pemicu orang untuk datang. Kuncinya adalah kepandaian mengkreasikannya dan di ujungnya: masyarakat harus sejahtera.

BANDA, Jaringnews.com - Kesuksesan penyelenggaraan Festival Budaya Banda 2015 meninggalkan kesan tersendiri bagi Asisten Deputi Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintahan Kementrian Pariwisata, Tazbir yang jauh-jauh dari Malang hadir untuk membuka festival ini. Ia mengakui Banda Naira ini sudah terkenal sejak dulu. Ketika sekolah ia mengaku sudah membaca Banda Naira.

"Saya pertama kali ke sini sangat antusias walaupun perjalanannya relatif panjang: darat, laut dan udara. Namun, ini suatu pengalaman yang cukup menarik," akunya.

Ke depan ia ingin melihat perkembanan yang bagus di Banda Naira. Tentu saja, ini sangat terkait dengan program-progam dari Kementrian Pariwisata. Kementrian Pariwisata yang kini berdiri sendiri, khusus pariwisata saja dan tidak bergabung dengan kebudayaan atau ekonomi kreatif atau lain-lainnya akan fokus pada promosi.

"Kami sangat serius untuk promosi. Apa yang kami promosikan yaitu daerah-daerah yang serius ingin mengembangkan pariwisatanya," tandasnya.

Ia mengakui Banda Naira memiliki potensi yang luar biasa sebagai tempat wisata daerah dan budaya.
"Saya kira tidak banyak bupati yang tidak memiliki istana seperti ini. Cuma Bapak (Bupati Maluku Tengah) yang punya ini. Ini keren sekali. Ini sangat punya nilai heritage."

Oleh sebab itu kelebihan ini harus dijadikan daya tarik tersendiri, misalnya kapan dan siapa saja yang pernah berkantor di sini perlu ditulis namanya di sini. Cara ini akan menjadi cerita bagi guide. Satu-dua jam wisatawan akan berada di sini untuk mendengar cerita kemudian lalu makan minum di sini karena ada cafe dan restauran.

Pariwisata itu, jelasnya, adalah bagaimana kepintaran kita menguras dompet tamu supaya tamu yang datang ke sini banyak belanja dan banyak keluar uangnya. Agar banyak keluar uangnya, perlu dikuak story (sejarah) yang baik dan menarik.

"Di sini banyak sejarah, tetapi ceritanya belum dikemas dengan baik dan perlu sentuhan-sentuhan yang dikombinasi dengan alam. Sejarah penjajahan ini sangat menarik untuk dijual dalam pariwisata. Ini perlu dicreate sedemikian rupa."

Ia menandaskan tidak berlebihan kalau Bupati (Tuasikal Abua) pun memberikan perhatian yang serius untuk mengembangkan pariwisata di sini.

Karena pariwisata itu perang informasi dan perang publikasi, perlu juga publikasi yang gencar sehingga lama-lama orang akan penasaran dan datang.

"Antusiasme ini perlu dibangun. Istana ini juga bagus pemandangannya. Ini adalah satun-satunya istana yang ada di pinggir laut. Orang Belanda itu memang sangat senang dengan wisata. Pasti waktu membangun dengan setting ke depan: pohon-pohon besar dan pemandangan alam. Duduk di sini bisa lihat laut. Peninggalan ini luar biasa."

Ia pun berharap festival akbar budaya Banda ini menjadi agenda rutin setiap tahunnya karena festival ini bisa menjadi pemicu orang untuk datang. Kuncinya, adalah kepandaian mengkreasikannya dan di ujungnya: masyarakat harus sejahtera.

Tentu saja kalau ini yang pertama, akunya, tidak langsung sempurna. Sebagai festival ini baru akan terlihat pertumbuhannya selama 5 tahun mendatang. Tidak bisa setahun langsung jadi.

"Semoga masyarakat Maluku Tengah memberi respon dengan berbagai kreativitas. Ini adalah kesempatan untuk berkreasi supaya masyarakat bertambah besar dukungannya untuk kegiatan pariwisata dan tentu saja berdampak besar untuk ekonomi kreatif di sini."

"Hasil-hasil lokal perlu dikembangkan, misalkan semua penonton wajib minum sirup pala karena pala di sini tempatnya. Dengan begitu, pala itu bakal laku," pungkasnya.

( Deb / Deb )

Komentar