04:23:19 WIB
Kamis, 29 Juni 2017
Kamis, 08 Oktober 2015 , 19:11 WIB

Hadirilah Festival Akbar Budaya Banda Naira 2015

Johannes Sutanto de Britto
72845-Perahu Belang
Perahu Belang

Beragam acara mulai lomba memancing, lomba klompen raksasa, lomba empang, lomba perahu belang, lomba foto bawah laut hingga pesta kuliner siap menyemarakkan pesta rakyat yang akan digelar pada Senin-Selasa, 09-10 November 2015 mulai pukul 08:00 WIT.

MASOHI, Jaringnews.com - Festival budaya paling akbar abad ini di Banda Naira, Maluku Tengah kembali hadir. Beragam acara mulai lomba memancing, lomba klompen raksasa, lomba empang, lomba perahu belang, lomba foto bawah laut hingga pesta kuliner siap menyemarakkan pesta rakyat yang akan digelar pada Senin-Selasa, 09-10 November 2015 mulai pukul 08:00 WIT.

Perahu Belang menjadi ikon acara festival akbar tahun ini karena perahu ini memiliki ikatan historis dan budaya dengan masyarakat Banda. Belang adalah perahu tradisional Kepulauan Maluku. Belang juga biasa disebut Kora-kora (Cora-cora).

Belang merupakan kapal tua bangsa Maluku yang bisa mencapai Skandinavia yang terkenal dengan bangsa Vikingnya (Swedia, Norwegia, Finlandia, Denmark) yang memakai rumbai kepala naga, ekor naga pada belakang perahu dan memakai layar seram (layar segi empat).

Perahu Belang sudah sejak dahulu digunakan oleh para Kapitan untuk memelihara atau menjaga keamanan Pulau Banda. Mereka itu antara lain Kapitan Salamon, Lautaka, Pulau Ay dan Rosengin. Para Kapitan ini bernama Orlima.

Setelah Orlima memisahkan diri dari Orsia (Lonthoir) maka terjadilah perang saudara antara Orsia (Lonthoir) dan Orlima. Dalam peperangan mereka membuat perahu masing-masing yang sampai hari ini disebut Belang.

Belang sendiri bentuknya seperti sampan dengan panjang kira-kira 10 meter dan sangat sempit mirip dengan Perahu Naga China. Secara historis, Belang biasa digunakan sebagai perahu dagang dan sebagai kapal perang. Sebagai kapal perang, Belang tentu saja bentuknya lebih besar.

Sebagai kapal perang, Belang adalah armada perang utama rakyat Banda. Perahu ini sendiri pernah digunakan dalam peperangan melawan Belanda di Kepulauan Banda pada abad ke-17. Dengan demikian, Belang adalah bukti sejarah pejuang Banda mengusir penjajah.

Di masa perjuangan melawan penjajah rakyat Banda menghadirkan armada perang Belang yang gesit dan lincah di lautan. Ini tidak berlebihan mengingat Banda di masa lalu memiliki magnet khusus, yaitu mempunyai kekayaan alam yang luar biasa. Banda menjadi pulau yang menggiurkan bagi bangsa Eropa di masa lalu. Pada 1512, bangsa Portugis datang ke pulau ini, lalu menyusul Inggris. Setelah Inggris kalah perang melawan Belanda pada 1803, pulau yang kala itu menjadi salah satu pusat perdagangan dunia berpindah tangan kepada Belanda.

Nah, Belang ini tergolong unik dari sisi tampilan. Di bagian dalam Belang dipancangkan bendera-bendera adat dari kampung adat Belang berasal. Tak hanya itu saja, pada bagian depan dan belakang Belang ada pula hiasan bendera. Di bawah masing-masing bendera yang terpancang berdiri satu orang, yaitu ketua adat dan kapitan.

Belang biasa didayung oleh 30-40 orang ditambah dengan seorang juru mudi dan seorang natu (navigator).

Dalam perkembangan waktu, Belang atau Kora-kora ini digunakan untuk menyambut para tamu yang berkunjung ke Kepulauan Banda dan kini sering dilombakan antar kampung adat.

Lomba Belang tahun ini akan diikuti puluhan perahu dari berbagai desa di Pulau Banda. Masyarakat dan para tamu dalam dan luar negeri bakal antusias dan terpuaskan menyaksikan lomba karena para peserta tahun ini akan menampilkan Belangnya yang lebih menarik dan unik.

BERIKUT INI AGENDA KEGIATAN FESTIVAL AKBAR BUDAYA BANDA NAIRA 2015

SENIN, 09 NOVEMBER 2015

08 : 45 WIT           : Upacara Pembukaan
09.00 - 12.00 WIT     : Lomba Memancing
13.30 – Selesai       : Lomba Klompen Raksasa
15.00 – Selesai       : Lomba Empang


SELASA, 10 NOVEMBER 2015

10.00 - 13.00 WIT     : Lomba Perahu Belang dan Foto Bawah Laut
15.00 – Selesai       : Kuliner
19.30 – Selesai       : Upacara Penutupan Sekaligus Pengumuman Hasil
                        Lomba

( Deb / Deb )

Komentar