04:23:48 WIB
Kamis, 29 Juni 2017
Kamis, 01 Oktober 2015 , 19:15 WIB

Di Tengah Kegaduhan Politik, Tuasikal Abua: Pegangannya Aturan

Johannes Sutanto de Britto
72725-Bupati Maluku Tengah, Tuasikal Abua bersama istri tercinta sedang berpose dengan anak-anak di Masohi (Foto: Tabaos Bupati Malteng)
Bupati Maluku Tengah, Tuasikal Abua bersama istri tercinta sedang berpose dengan anak-anak di Masohi (Foto: Tabaos Bupati Malteng)

Politik adalah politik, tapi pola mainnya adalah aturan.

MASOHI, Jaringnews.com - Politik itu tidak bisa diraba. Pernyataan ini diungkapkan Bupati Maluku Tengah Tuasikal Abua baru-baru ini. Karena tidak bisa diraba, suatu pegangan tertentu sangat diperlukan. Dengan begitu, akan ada mekanisme yang bisa dipertanggungjawabkan.

"Yang saya pentingkan dalam dunia politik adalah aturan-aturan mainnya yang harus ditegakkan. Politik adalah politik, tapi pola mainnya adalah aturan. Maka dalam segala sesuatu, termasuk dalam kebijakan saya, kuncinya adalah penegakan aturan," tegasnya.

Ia pun mengakui, dalam politik itu, orang hari ini bicara lain, di lain hari bicara lain lagi. Ini yang dinamakan dinamika. Tak mengherankan, ketika pertama kali masuk ke dunia politik, ia agak sedikit kaget.

"Tapi saya mencoba untuk belajar dan mengikuti semua proses politik. Saya ikuti terus dan tidak ada henti-hentinya. Kesimpulannya adalah aturan. Kita boleh bermain politik, tapi kita harus kembali pada hukum atau aturan," tandasnya.

Kalau tidak ada landasan hukum atau aturan, terangnya, sewaktu-waktu bisa hancur. "Kalau kita kembali ke aturan mainnnya, insya Allah kita akan bertahan. Kalau kita mau sikut sana-sikut sini, pada suatu waktu kita pasti hancur."

Ppada prinsipnya, ia mengaku menaati aturan-aturan mainnya, apalagi di era penuh dinamika politik yang luar biasa gaduh ini.

"Visi ke depan saya ingin membawa Maluku Tengah aman, damai, sejahtera dan berkeadilan. Itu yang merupakan titik tujuan dari proses-proses yang ada saat ini. Ke depan saya harus melanjutkan ini."

Apa yang belum selesai, terangnya, dalam 5 tahun ke depan akan dituntaskan, terutama terkait pembinaan pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat karena tingkat kemiskinan yang masih tinggi.

Pria asal Pelauw ini pun ingin mengurangi tingkat kemiskinan dengan berbagai upaya termasuk dengan Tabaos. Menyapa adalah satu langkah yang sangat penting, dimana seorang pemimpin memang harus ada di tengah-tengah masyarakat.

"Saya berkunjung ke semua desa dan negeri dengan mendengarkan permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi. Menyapa dan mendengarkan keluhan mereka. Setelah itu, kita duduk bersama merumuskan apa yang sebaiknya dilakukan untuk mereka."

Tabaos dalam bahasa daerah Maluku Tengah artinya mengajak berkumpul untuk merumuskan persoalan-persoalan di negeri ini.

"Saya telah melakukan Tabaos ke kecamatan-kecamatan di Kabumaten Maluku Tengah secara keseluruhan.  Kita berkunjung dari desa ke desa. Kita silahturahmi. Nah,  setelah Tabaos kita akan melakukan Posdaya. Posdaya lebih memberatkan pada Masohi Membangun Negeri. Posdaya dilakukan dengan pemberdayaan-pemberdayaan," terangnya.

Di setiap negeri pun diupayakan pemberdayaan-pemberdayaan. Di tiap negeri ada 3-5 kelompok posdaya di sektor perikanan atau pertanian. Selain itu, ada juga jual beli asongan, roti dan sebagainya.

Ia berusaha memberdayakan kelompok-kelompok yang ada. Contoh pertanian, yaitu bagaimana mendorong petani dengan fasilitas sehingga mereka mau lebih maju. Seperti pedagang asongan, kita beri modal uang agar mereka bisa melanjutkan usaha mereka.

"Saya rasa ini belum tuntas. Apalagi sekarang ini, saya ingin "menjual" Maluku Tengah ini ke dunia luar dalam bentuk pariwisata dan sebagainya," tandasnya.

( Deb / Deb )

Komentar