04:21:37 WIB
Kamis, 29 Juni 2017
Senin, 28 September 2015 , 20:16 WIB

Dari Notaris Mapan Melenggang ke Malteng Satu

Johannes Sutanto de Britto
72672-Bupati Maluku Tengah, Tuasikal Abua
Bupati Maluku Tengah, Tuasikal Abua

Di dalam politik inilah ia berkeyakinan bisa berbuat banyak untuk kesejahteraan masyarakat. Di dunia politik dan dengan jabatan-jabatan politik inilah ia bisa melakukan banyak hal untuk kesejahteraan masyarakat.

MASOHI, Jaringnews.com - Begitu menjadi notaris, Tuasikal Abua pun menikmati pekerjaan yang memang sudah diidam-idamkannya semenjak kecil. Dunia politik tak pernah terlintas dalam benak pikirannya saat masih kecil maupun saat kuliah.

"Saya sama sekali tidak kepikiran akan terjun ke dunia politik. Saya hanya punya cita-cita menjadi notaris. Oleh sebab itu, saat kuliah S1 pun saya sudah sisihkan uang agar setelahnya bisa kuliah lagi untuk menjadi notaris," kenang Bupati Maluku Tengah yang sejak kecil gemar menabung di dalam botol bir.

Niatnya menjadi notaris begitu kuat. Karena itu, ia pun rajin menabung dari hasil jerih payahnya, termasuk saat musim libur memilih untuk membantu orang tua membeli cengkeh dan memutar bioskop.

"Bapak saya punya bioskop. Di bioskop itulah saya minta izin ambil uang dan menyimpannya di botol birnya," kenangnya.

Namun kehidupan sebagai notaris tak semulus yang dibayangkan. Setelah menjadi seorang notaris yang notabene mapan dan enak di Ambon, tragedi 1999 pecah. Ambon rusuh. Ia pun memutuskan pergi ke Yogyakarta dengan harapan bahwa begitu kondisi kembali pulih, akan kembali menjadi notaris di Ambon.

"Tapi karena makin hari makin parah, saya membuat keputusan untuk hijrah ke Jakarta. Alhamdulillah-puji syukur, saya di Jakarta menjadi notaris yang diperhitungkan dan punya kantor di Tomang Raya," tegas alumni Fakultas Hukum UII Yogyakarta tersebut.

Rejeki pun terus mengalih hingga ia akhirnya berhasil mewujudkan keinginan masa kecilnya yaitu memiliki mobil VW putih.

"Saya sempat punya satu, tapi belum dapat lagi. Dulu VW Combi warna putih sangat istimewa. Senang sempat memilikinya."

Sudah mapan dan enak menjadi seorang notaris, ia justru terpanggil untuk mengabdi pada masyarakat dan negara dengan menjadi seorang bupati.

"Perjalanan hidup ini kan kita tidak tahu. Perjalanan hidup itu mengalir dan tak disangka-sangka. Ini adalah salah satu berkah."

Bermula dari kegiatan rutin di masjid dan banyak baca buku, ia mengaku terusik dan tergugah untuk menjadi "orang".

"Allah mengatakan, 'Aku tidak merubah nasibmu, terkecuali Kau merubah nasibmu sendiri'." Kalimat inilah yang mendorong saya untuk maju dan terjun ke dunia politik. Saya akhirnya terjun ke dunia politik."

Selanjutnya, ia juga terusik oleh hal-hal yang terkait dengan masalah pemerintahan. Makanya, ia memberanikan diri untuk bisa berbuat lebih banyak bagi masyarakat Maluku Tengah.

"Saya mencoba sesuatu yang belum pernah saya jalani dan mencalonkan diri untuk menjadi seorang bupati. Walaupun dulu yang menjadi bupati adalah adik saya sendiri, tapi saya ingin berbuat lebih pada masyarakat. Saya ingin menyejahterakan masyarakat."

Selain terinspirasi dan termotivasi oleh kakaknya yang juga seorang birokrat dan adiknya yang seorang mantan bupati, ia juga terusik oleh ayat dalam Alquran yang mengatakan sebaik-baiknya manusia, apabila manusia itu bisa bermanfaat bagi orang lain.

"Saya ingin mendharmabaktikan hidup ini untuk orang lain. Saya selalu berkata, kalau saya bermanfaat, silahkan ambil saya. Tapi kalau tidak bermanfaat, jauhkan saya. Harimau mati meninggalkan belang, tetapi budi pekerti dan amal akan dikenang sepanjang masa."

Di dalam politik inilah ia berkeyakinan bisa berbuat banyak untuk kesejahteraan masyarakat. Di dunia politik dan dengan jabatan-jabatan politik inilah ia bisa melakukan banyak hal untuk kesejahteraan masyarakat.

"Notaris paling-paling bla-bla, selesai. Dalam politik, segala sesuatu bisa kita lakukan untuk pemberdayaaan masyarakat. Kita tidak bisa mengintervensi sesuatu di masyarakat, kalau kita di luar politik," tandasnya.

Simak dan klik artikel selanjutnya: Di Tengah Kegaduhan Politik, Tuasikal Abua: Pegangannya Aturan

( Deb / Deb )

Komentar