07:41:54 WIB
Sabtu, 22 Juli 2017
Rabu, 16 Mei 2012 , 18:29 WIB

Working Breakfast Dengan Dubes Brasil Paulo Alberto Soares

Nikky Sirait
15320-Pemimpin Redaksi Jaringnews.com Kastorius Sinaga berbincang hangat dengan Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto Suares di kediaman pribadinya, Senayan, Jakarta, Rabu (15/5). (Jaringnews/Dwi Sulistyo)
Pemimpin Redaksi Jaringnews.com Kastorius Sinaga berbincang hangat dengan Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto Suares di kediaman pribadinya, Senayan, Jakarta, Rabu (15/5). (Jaringnews/Dwi Sulistyo)

Selaku duta besar, Soares tampak berkeinginan kuat menerobos berbagai hambatan kerja sama bilateral RI-Brasil.

JAKARTA, Jaringnews.com - Setelah Pemimpin Redaksi Jaringnews.com Kastorius Sinaga sempat ikut dalam misi dagang pemerintah RI ke Amerika Latin pada 12-16 Maret lalu, dengan Republik Federal Brasil sebagai salah satu negara yang dikunjungi, Kastorius pun kembali bertemu dengan pihak Brasil.

Kali ini, Kastorius bersama sekitar 21 tamu undangan, yang terdiri dari pemimpin redaksi media massa, pengusaha dari berbagai korporasi dan pejabat teras Kedutaan Besar Brasil, berkesempatan bertemu Duta Besar (Dubes) Brasil untuk Indonesia, Paulo Alberto Soares, di kediaman pribadinya, Jalan Simprug Golf I Nomor 99, Senayan, Jakarta. Acara bertajuk Working Breakfast Meeting, dengan suasana santai namun bernas ini, digagas sendiri oleh Dubes Soares.

Dalam kesempatan tersebut, Dubes Soares dengan bersemangat memberi gambaran gamblang mengenai perkembangan dan kondisi terkini Brasil, negara yang pertumbuhan dan kemajuan ekonominya terbilang menakjubkan. Sang Dubes juga dengan detail memberikan angka statistik hubungan bilateral bidang ekonomi antara Brasil dan Indonesia, yang belakangan ini mengalami peningkatan, baik dalam skala kerja sama perdagangan, investasi dan politik (south-to-south cooperation).

Di bidang perdagangan misalnya, hubungan perdagangan Brasil dan Indonesia tumbuh dengan signifikan dalam kurun waktu 12 tahun terakhir, dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 25 persen per tahun. Volume neraca perdagangan Indonesia–Brasil mengalami kenaikan tajam, dari hanya US$ 210 juta di tahun 2001, menjadi US$ 2,8 miliar di 2013.

Namun, dari kenaikan volume ekspor-impor tersebut, Brasil lebih diuntungkan. Surplus perdagangan Brasil terhadap Indonesia mengalami kenaikan signifikan, yaitu sebesar US$ 34 juta (2012) dan US$ 73 juta (2013). Sementara itu, bagi Indonesia, berdasarkan data tahun 2010, terjadi defisit perdagangan dengan Brasil. Ekspor Indonesia ke Brasil pada 2010 sebesar US$ 1,52 miliar, sementara impor Indonesia dari Brasil tercatat sebesar US$ 1,71 miliar. Sehingga Indonesia pada 2010 mengalami defisit sebesar US$ 144 juta.

Dubes Soares sangat bersemangat meyakinkan para tamu undangan agar mengambil peran untuk mempererat hubungan ekonomi Brasil dan Indonesia. “Indonesia memiliki keunggulan dan kesempatan mengembangkan produknya seperti pada CPO (crude palm oil) dan karet, di mana Brasil sangat membutuhkan dan tertinggal dibanding Indonesia. Selain itu, bidang manufacturing, sektor yang mendominasi perdagangan Indonesia dan Brasil, dimana Indonesia meraup surplus di tahun 2011 di sektor ini,” tegas Dubes Soares.

Sesuai dengan topik diskusi yang tertera di undangan, yang mengangkat tema 'Beef Import Restriction by Indonesia', Soares mengangkat isu tentang hambatan impor sapi Brasil ke Indonesia. Selaku duta besar, Soares tampak berkeinginan kuat menerobos hambatan ini.

Seperti diketahui, Indonesia memutuskan untuk menutup keran impor sapi Brasil, berpedoman pada peraturan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 mengenai impor berdasarkan country based yang terbukti bebas penyakit. Baru-baru ini, setelah pemerintah RI melakukan pemeriksaan status penyakit, Brasil berpeluang besar kembali mengekspor ke Indonesia.

Brasil memang negara yang belum sepenuhnya terbebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK), namun itu berdasarkan sistem country based. Sedangkan berdasarkan sistem zone based, beberapa wilayah di Brasil sudah terbebas PMK, bahkan ada wilayahnya yang terbebas PMK tanpa vaksinasi. Dan terbukti, Brasil sukses menjadi mitra ekspor sapi beberapa negara besar di dunia, seperti Singapura, China, India, Argentina, hingga Uruguay. Tak hanya itu, Brasil sudah menerapkan sistem karantina pulau, yakni dengan mengisolasi hewan ternaknya di suatu wilayah untuk memastikan ternak-ternak terbebas dari PMK.

Nah, Dubes Soares mengatakan, negaranya memiliki produksi daging sapi yang cukup besar di dunia. Dia melihat Indonesia sebagai pangsa pasar berprospek cerah, karena permintaan daging sapi yang sangat tinggi di Indonesia akibat produksi yang masih jauh di bawah kebutuhan konsumsi.

“Saya melihat prospek pasar daging sapi dan ayam di Indonesia masih sangat besar. Konsumsi daging sapi per kapita per tahun di Indonesia adalah paling rendah dibandingkan dengan 10 negara ASEAN lainnya, yaitu hanya 1,9 kilogram per tahun. Negara yang masih jauh di belakang Indonesia, yakni Laos, konsumsi daging sapinya per kapita per tahun sudah mencapai 7 kg," papar Dubes Soares.

"Data ini membuka peluang perluasan kerja sama ekonomi Brasil dan Indonesia. Brasil siap mendorong investornya untuk memperluas pertenakan sapi brasil di Indonesia bila hambatan impor sapi diretas di sini,” ungkap Dubes Soares bersemangat.

Terkait dengan hambatan non-tarif (trade restriction) semisal penerapan anti-circumvention, anti-dumping dan masalah certificate country of origin, sedang diterapkan pihak Brasil terhadap produk eskpor Indonesia, semisal alas kaki dan sepatu, Soares pun angkat bicara. Dia mengatakan, pihaknya tengah berusaha menyelesaikan hambatan dagang yang dikhawatirkan mampu memperlambat laju arus masuk ekspor barang dari Indonesia ke Brasil ini.

"Bulan April 2012 kemarin tim Brasil sudah datang ke Indonesia mengunjungi pabrik sepatu di Indonesia, untuk menyelesaikan masalah itu. Respon pemerintah Brasil cukup cepat dan baik," pungkas dia.

Para peserta sangat antusias mengikuti diskusi kecil namun bernas tersebut, sambil menikmati suguhan kopi nikmat dari Brasil dan makanan ringan. Diskusi berlangsung di lantai tiga rumah sang Dubes, yang memiliki view (pemandangan) yang sangat indah, karena letaknya persis di pojok pinggir lapangan Senayan National Golf Club.

( Nky / Nky )

Berita Terkait

Komentar