11:47:21 WIB
Jum'at, 28 Juli 2017
Minggu, 09 April 2017 , 08:29 WIB

Pesona dan Makna Rejepan di Desa Wonosari Temanggung

Johannes Sutanto de Britto
82937-Warga bersiap mengikuti ritual di Desa Wonosari, Kec. Bulu, Kab. Temanggung (Foto: Ist)
Warga bersiap mengikuti ritual di Desa Wonosari, Kec. Bulu, Kab. Temanggung (Foto: Ist)

Kekentalan adat dan kerukunan gotong royong masih mengakar di desa-desa di lereng gunung Sumbing, Sindoro, dan Prahu.

TEMANGGUNG, Jaringnews.com - Tradidi Rejepan rutin dihelat di Desa Wonosari, Kec. Bulu, Kab. Temanggung di bulan Rojab antara tanggal 10 sampai 15.

Kepala Desa Wonosari Agus Parmuji menegaskan usai Rejepan, pada siang harinya biasa dilanjutkan  dengan "Njereng Gamelan" atau pentas kesenian adat ritual sebagai bentuk perawatan keanekaragaman budaya, adat istiadat, dan tradisi.

Ia menegaskan kekentalan adat dan kerukunan gotong royong masih mengakar di desa-desa di lereng gunung Sumbing, Sindoro, dan Prahu. Hal ini dibuktikan di bulan Rojab, hampir semua desa di lereng gunung-gunung tersebut menggelar ritual demi kelestarian sebuah tradisi.

Dituturkan Agus, setelah terdengar bunyi kentongan di pagi hari sekitar jam 7.30 wib, warga berbondong-bondong menuju punden (tempat keramat), sambil membawa rakitan yang dibawa dengan tenong dan bakul yang  berisikan ingkung (ayam masak), lanyahan (sayur mayur, tempe, krupuk), ketan salak (wajik merah, ketan putih), dan pisang rojo.

"Tradisi tersebut merupakan tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang dengan maksud dan tujuan mendoakan leluhur atau pepunden yang diyakini telah mampu membawa perubahan di daerah tersebut dan juga sebuah penghormatan kepada leluhur," kata Agus di Temanggung dalam siaran persnya pada Jaringnews.

Agus mengungkapkan, leluhur atau pepunden, menurut keterangan cerita adalah seorang ulama yang telah membawa bibit tembakau ke daerah lereng pegunungan. Beliau adalah Ki Ageng Makukuhan.

"Ki Ageng Makukuhan diyakini oleh masyarakat setempat merupakan seorang Wali Allah  yang bertugas menyebarkan ilmu keagamaan di daerah pegunungan dan juga  seorang ahli pertanian," terang dia. 

"Adalah tugas dan tanggung jawab bersama untuk menjaga dan merawat ragam budaya, adat istiadat, dan tradisi," pungkas dia.

( Deb / Deb )

Komentar