20:40 WIB
Jumat, 25 Juli 2014
Jumat, 23 Agustus 2013 11:02 WIB

Ahok Bela Lurah Lenteng Agung Korban Intoleransi

Chandra Harimurti
Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Jakarta (Jaringnews/ Dwi Djoko Sulistyo)
Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Jakarta (Jaringnews/ Dwi Djoko Sulistyo)

Susan lolos seleksi lelang lurah-camat yang begitu ketat.

JAKARTA, Jaringnews.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama membela lurah Lenteng Agung di Jagakarsa Jakarta Selatan. Lurah ini korban aksi intoleran warganya sendiri.

Warga Lenteng Agung menolak Susan Jasmine Zulkifli menjadi lurah hanya karena beragama non muslim. Padahal Susan lolos seleksi lelang lurah-camat yang begitu ketat. Diinformasikan, warga setempat sampai mengumpulkan 2.300 nama dan 1.500-an KTP, untuk diberikan ke Pemprov DKI sebagai dukungan untuk mencopot Susan.

Mengetahui hal itu, Ahok jelas menolak permintaan warga. Ahok pun heran, warga Jakarta yang ketanya beradab dan cerdas masih membawa isu SARA dan bersikap intoleran.

"Kita nggak akan mau tangani masalah itu. Nanti lama-lama ditolak karena kamu Syiah. Ini tidak benar. Kalau tolak karena agama tidak ada urusan, kalau dia mencuri, tidak mau melayani, itu masalah," kata Ahok di Balaikota Jakarta, Kamis (22/8).

Ahok mencontohkan isu SARA sempat menerjangnya saat bertarung di Pemilukada Jakarta setahun lalu. Namun Jokowi dan Ahok menang dengan perolehan suara 52 persen lebih.

"Jadi ada 40 persen lebih warga Jakarta tidak mau saya jadi wagub, tidak ada urusan. Kita taat konstitusi," jelasnya.

Sementara itu dalam rilis persnya, LSM Keberagaman Setara Institut mendesak Jokowi dan Ahok menuntaskan kasus intoleransi di Jakarta. Menurutnya kasus Susan Jasmine Zulkifli di Lenteng Agung itu menambah jumlah kasus intoleransi dan diskriminasi di Jakarta sebab, kasus serupa yang terjadi di Tambora, Jakbar, Februari 2013 hingga kini belum selesai.

(Chm / Mys)
Diurutkan berdasarkan:
Jumat, 23 Agustus 2013 13:26 WIB
mynurani

menjaga keseimbangan dan kestabilan lebih penting daripada taat konstitusi yang kaku

Jumat, 23 Agustus 2013 13:42 WIB
Indonesiaku

sebaiknya ahok jangan pongah gitu, ingat ahok terpilih karena figur yang kuat dari Jokowi... Coba ahok maju sendiri, nggak aka jadi...!!!

Jumat, 23 Agustus 2013 22:12 WIB
I Love LA

Bang Jo harus tegas tangani masalah ini. Kami yakin salah nempatin Lurah saja.Tuhan kita sama, keyakinan kita jg sama. Kami cinta Bang Jo.

Sabtu, 24 Agustus 2013 21:19 WIB
Nico Sarapang

kenapa gk dilaporin aja ke polisi itu yang menentang lurah susan? sudah tau itu sudah intoleransi/diskriminasi agama. Mentang mentang kristen minoritas di Indonesia. Jangan kurang ajar gitulah.yang nolak lurahnya sendiri itu sama aja dengan pengkhianat. Karena udah tidak melaksanakan sila ke-2 dan ke-3 pancasila.... Percuma aja tinggal di Indonesia, kalo kerjanya cuman diskriminasi agama kami, yang minoritas....

Selasa, 27 Agustus 2013 20:59 WIB
Alen

Bung Ahok, Sampeyan itu mbok ya ngaca! Apa ada warga sebangsa itu yang toleran dengan segala perbedaan selain menunjukkan eksklusivitas. Kalau ada maunya baru muncul. Jangan ajarin kami soal toleransi, Bung!

Minggu, 1 September 2013 10:45 WIB
kongkong

Dasar kafir! Jangan pancing-pancing pertumpahan darah dengan dalih konstitusi. Apa masih kurang sabar dan tolerannya kami terhadap ente pade!?

Senin, 2 September 2013 19:40 WIB
Alexander Yunadi

Bung Ahok! Kalau belum mengerti jua letak kesalahan kebijakan itu, baiklah ini kami sampaikan informasinya; Pemimpin wanita masih dipermasalahkan di kalangan umat beragama, baik Kristiani, apalagi Islam. Dan, Lentengagung itu dikenal secara primordial sbg basis 'hijau'. Jadi kebijakan Anda menempatkan lurah seorang wanita beragama Kristen telah melukai hati kami, umat Islam. Kalau alasannya demokrasi dan toleransi, tolong berikan contoh tempat di dunia ini yang mau menerima begitu saja kebijakan serupa itu. Carilah di negara2 Eropa dan dedengkotnya demokrasi, Amerika, bahkan ke daratan Cina sekalipun, Anda takkan menemukannya!!! Kami harap, Sampeyan paham lho! Yang Anda hadapi sekarang ini bukan orang2 sekelas preman Tanahabang tapi Mujahid yang siap mati, yang cuma tunggu satu komando saja... Ini bukan ancaman tapi sesuatu yang harus Anda camkan...

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini