05:23 WIB
Kamis, 21 Agustus 2014
Sabtu, 27 April 2013 20:17 WIB

Rusak Moral Bangsa, NU Jatim Tolak Miss Word Digelar di Indonesia

Abdul Hady JM
Kontes pemilihan Miss World (Ist)
Kontes pemilihan Miss World (Ist)

"Kami tidak setuju Miss Word diadakan di Indonesia," kata Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Timur KH Abdurrahman Navis, Lc.

SURABAYA, Jaringnews.com - Rencana kontes Miss World 2013 yang akan dilaksanakan di Indonesia, pada 28 September mendatang memunculkan pro kontra. Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur juga turut angkat bicara.

"Kami tidak setuju Miss Word diadakan di Indonesia," kata Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Timur KH Abdurrahman Navis, Lc, di Surabaya, Sabtu (27/4).

Bagi Kiai Navis, perhelatan kontes ratu kecantikan yang rencana akan diikuti sekitar 130 wanita dari berbagai negara itu, memberikan dampak negatif yang sangat besar bagi moral bangsa Indonesia.

Ia mengakui, kontes ratu kecantikan itu memang ada manfaatnya. "Tapi mudharatnya lebih besar," tandas Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur ini.

Menurut Kiai Navis, ajang internasional itu bukan saja membawa misi bisnis, melainkan juga sebagai salah satu upaya untuk menggerogoti budaya lokal Indonesia.

Sejak dulu, lanjut dia, umat Islam di Indonesia selalu menolak semua bentuk ajang perlombaan yang mengarah pada pengumbaran aurat, yang digelar di luar negeri.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini mengaku heran, mengapa sekarang justru malah hendak dilaksanakan di Indonesia. "Dulu ngirim peserta saja banyak yang gak setuju malah sekarang jadi tuan rumah," ujarnya heran.

Puncak acara Miss World 2013 rencana akan digelar di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Jawa Barat pada 28 September 2013 mendatang.

Menurut catatan, sepanjang sejarah pemilihan Miss World yang digelar pertama pada 1951 lalu, penyelenggaraannya di Asia hanya dilakukan di China dan India.

Di China sebanyak dua kali dan lima kali di India. Alhasil, Miss World 2013 yang ke-68 kali ini, Indonesia menambah daftar negara Asia yang menghelat kontes ratu kecantikan dunia tersebut.

(Hdy / Riz)
Diurutkan berdasarkan:
Minggu, 28 April 2013 05:32 WIB
sukirno

Sebenarnya pemerintah(atau yg mendapat amanah/bertanggungjawab tentang miss ini) memikirkan terlebih dahulu apasih hasil atau keuntungannya untuk bangsa. ini bukan hanya untuk pihak tertentu, dengan adanya miss word digelar!.akhir-akhirnya kan hanya merusak moral bangsa didepan Tuhan!, kondisi bangsa yang sudah semakin memprihatinkan tentang generasi-generasi penerusnya terutama tentang ahklaknya!, apa kurang dan akan diperparah lagi?.sudahlah miss word tidak perlu, soal kecantikan bukan dilihat dari penampilannya saja, tapi yang penting hatinya yang jujur,tulus ,ikhlas menomer satukan Tuhannya.

Selasa, 3 September 2013 14:15 WIB
Candra Wiguna

Lucu sekali. Kalau mau jujur menilai, Islam pun sendiri juga merupakan budaya asing yang bisa menggerogoti budaya lokal yang sudah ada. Orang pake brokat berubah menjadi pakai cadar. Tari jaipong sempat dilarang, keris dimusnahkan, begitu juga dengan kidung dan sastra lokal. Kita perlu inget bahwa budaya itu dinamis, tidak perlu takut dengan perubahan selama perubahan itu positif, dan saya pikir kontes kecantikan dampaknya postif2 saja.

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini