03:29 WIB
Selasa, 29 Juli 2014
Rabu, 10 April 2013 14:46 WIB

Mayjen Hardiono Saroso: Prajurit Itu Bangga Gugur Saat Perang, Bukan Dikeroyok Preman

Edy Suprayitno
Mayor Jenderal TNI Hardiono Saroso (Jaringnews/Edy Suprayitno)
Mayor Jenderal TNI Hardiono Saroso (Jaringnews/Edy Suprayitno)

Ia sangat hormat, bangga, menjujung tinggi sikap ksatria, kejujuran prajurit Angkatan Darat.

SEMARANG, Jaringnews.com - Setelah dicopot dari jabatannya sebagai Pangdam IV Diponegoro, Mayor Jenderal TNI Hardiono Saroso leluasa berbicara kepada publik melalui pers. Usai serah terima jabatan kepada Mayjen TNI Sunindyo di Semarang, Rabu (10/4), Hardiono banyak bercerita seputar pernyataannya yang menyebutkan bahwa tak ada anggotanya yang terlibat dalam operasi itu.

Pernyataan itu muncul saat Hardiono memimpin apel komandan satuan. Saat mendapat informasi itu, ia langsung melakukan cek. Cek secara keseluruhan, kata dia.

"Tugas Pangdam itu banyak. Satu, sebagai panglima kodam, tugasnya melakukan pembinaan satuan, penyiapan sumber daya manusia yang profesional untuk digunakan, oke? Dua, bertugas sebagai panglima komando operasi, saat ada operasi di wilayahnya. Tiga, berfungsi sebagai panglima komando daerah. Dan yang keempat nih, dia sekaligus komandan Garnisun, yang bertanggung jawab atas satuan organik dan non-organik di Jateng dan Yogyakarta, darat laut udara," kata Hardiono.

Hasil update informasi selalu dilaporkan kepada KASAD, termasuk ia juga menjelaskan bahwa pihaknya yang bertanggung jawab. Itu dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban sebagai komandan Garnisun.

"Udah deh sekarang yang perlu kita bicarakan ke depannya saja. Saya hormat, bangga kepada 11 prajurit Angkatan Darat yang saat ini sedang menjalani pemeriksaan di Pomdam, oke? Kebanggaan saya adalah sebagai prajurit saya pertaruhkan karir, pangkat, jabatan saya untuk 11 prajurit itu. Itulah bentuk soliditas dan solidaritas yang tidak bisa tergoyahkan," kata Hardiono.

Kata dia, dalam setiap tentara, ada yang namanya jiwa korsa. Bukan hanya di TNI tapi tentara di seluruh dunia. Tentara dilahirkan oleh negaranya untuk menjaga kedaulatan. Dan itu dibutuhkan jiwa korsa sehingga pasukan menjadi solid, termasuk TNI juga.

"Hanya satu kehormatan yakni sebagai prajurit. Sejak letnan dua sampai kolonel banyak berkecimpung di operasi. Beberapa kasus bahkan melibatkan gugurnya anggota saya. Gugurnya secara terhormat, saya lihat, saya otopsi, ada beberapa butir peluru yang bersarang di tubuhnya.. bukan dianiaya.. itulah kehormatan prajurit. Kebanggaan prajurit itu ketika gugur di medan perang membela negara, bukan dianiaya preman," kata Hardiono.

Sebagai komandan ia mengaku belajar solidaritas dan soliditas pasukan dari anggotanya. Ia sangat hormat, bangga, menjujung tinggi sikap ksatria, kejujuran prajurit Angkatan Darat. Jika anggotanya seperti itu, maka sebagai komandan ia mengaku harus sama. Anak buah memberi contoh dan ia memberi contoh pula.

"Kita harus hargai lho..saya berharap nih, polemik tentang Cebongan, harus dihentikan. Orang-orang yang membuat analisis banyak yang tidak pernah melihat durasi CCTV yang sesungguhnya, apa yang terjadi di Hugo's Cafe itu," kata Hardiono.

Sebelumnya, 4 April lalu, Ketua Tim Investigasi Brigjen Unggul K. Yudhoyono menjelaskan penyelidikan penyerangan dan pembunuhan di LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta, yang terjadi pada 23 Maret lalu. Hasilnya, para pelaku adalah 11 oknum Kopassus Grup II Kartasura, rekan-rekan Serka Heru Santoso yang tewas dalam perkelahian di Hugo's Cafe.

(Eds / Nky)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini