10:22 WIB
Jumat, 25 April 2014
Minggu, 24 Maret 2013 18:13 WIB

Usman Hamid: Teror LP Sleman Bisa Berefek Ganda

Nikky Sirait
Usman Hamid
Usman Hamid

Aparat seringkali cenderung lebih fokus pada upaya pembentukan citra dibandingkan pengungkapan fakta.

JAKARTA, Jaringnews.com - Aktivis HAM Usman Hamid mengecam serangan terhadap Lembaga Pemasyarakatan Sleman, Yogyakarta, yang terjadi pada Sabtu (23/3) dini hari. Menurut dia, serangan itu adalah serangan tersebut adalah serangan terhadap sistem hukum negara, karena mempertontonkan teror terhadap keamanan masyarakat.

"Teror yang dipertontonkan itu bisa saja berefek ganda, yaitu menimbulkan ketakutan terhadap masyarakat, dan bukan tidak mungkin bisa memicu kelompok lain yang memiliki motif kriminal untuk melakukan replikasi penyerangan terhadap lembaga negara lainnya. Terlebih lagi, lembaga pemasyarakatan selama ini diketahui sebagai tempat bagi para pelaku kriminalitas menjalani hukumannya," ujar Usman dalam rilis yang diterima Jaringnews.com di Jakarta, Minggu (24/3).

Ia menuturkan, kegelisahan masyarakat terhadap institusi yang harusnya menjaga keamanan masyarakat akhir-akhir ini semakin meningkat. Sebut saja perlakuan sewenang-wenang yang terjadi di Papua, pembakaran Mapolres Ogan Komering Ulu, hingga kini penembakan terhadap beberapa orang yang diduga membunuh oknum Kopassus.

"Hal ini kemudian semakin membuat kepercayaan masyarakat terhadap tentara dan kepolisian semakin menurun dari waktu kewaktu. Alih-alih menunjukkan fakta, pihak terkait justru lebih cenderung berupaya menyangkal keterlibatan institusinya dari kasus penyerangan LP Sleman," sambung Usman.

Usman beranggapan penting bagi pimpinan Kopassus setempat untuk membuktikan fakta yang terjadi di lapangan dan bukan hanya mencoba menyangkal keterlibatan anggotanya. Bahkan ia menyatakan ada berbagai hal yang akhirnya mendukung kecurigaan pada korps baret merah tersebut.

“Wajar jika ada kecurigaan, sebab di dalam pendidikan dan pelatihannya pasukan elit seperti Kopassus memang dilatih untuk mempunyai kemampuan menyerang, menculik, menyandera, dan membekuk musuh. Sebagai salah satu pasukan elit yang sudah diakui di level internasional, tentu Kopassus memiliki kemampuan untuk mengunakan senjata, bom, dan menaklukkan musuh.”

Usman menambahkan, penting bagi aparat kita saat ini untuk berfokus pada konsolidasi pasukan di level bawah, agar jangan terjadi gesekan antar instansi. Masyarakat tentu sudah mulai cerdas dan bisa menggunakan berbagai kanal sosial media untuk mengabarkan informasi secara real time.

"Hal ini yang mungkin lupa diperhitungkan oleh aparat kita sehingga seringkali cenderung lebih fokus pada upaya pembentukan citra dibandingkan pengungkapan fakta. Tentu aparat juga tidak seharusnya menghalangi masyarakat yang ingin coba mengabarkan sebuah informasi publik. Saya berharap, semua pihak bisa bekerja sama untuk menjaga keamanan bangsa dan negara,” tuntas pendiri Public Virtue Institute (PVI) ini.

(Nky / Nky)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini