11:11 WIB
Sabtu, 30 Agustus 2014
Senin, 18 Juni 2012 07:19 WIB

Kacung Maridjan: NU Berjasa Besar bagi Bangsa Indonesia

Abdul Hady JM

Menurut Kacung, saat ini telah bemunculan beragam paham keagamaan.

SURABAYA, Jaringnews.com - Guru Besar FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Kacung Maridjan mengatakan, Nahdlatul Ulama alias NU punya peran dan jasa besar dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari perjuangan yang diperankan oleh para kiai NU generasi awal dalam mengusir para penjajah. Akibat penjajahan Belanda misalnya, dalam waktu yang cukup lama, bangsa Indonesia ini mengalami keterpurukan yang cukup parah terutama dalam bidang ekonomi.

“Konsekuensi dari penjajahan ini, kondisi perekonomian bangsa Indonesia menjadi tertinggal jauh hingga sekarang,” kata Kacung Maridjan saat mengisi acara Sarasehan Peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-89 yang diadakan PCNU Kota Surabaya, di Gedung Astranawa Surabaya, Minggu (17/6).

Kacung Maridjan yang juga menjadi salah seorang ketua PBNU ini menjelaskan, NU berdiri setidaknya karena tiga faktor. Pertama, faktor agama, yakni untuk mempertahankan dan mengembangkan tradisi atau paham Islam ala Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Kedua, semangat kebangsaan, yakni untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Hal ini tidak lepas dari upaya untuk mengeluarkan Indonesia dari penjajahan Belanda. Ketiga, spirit pengembangan ekonomi. Hal ini ditandai dengan berdirinya Nahdlatut Tujjar pada tahun 1918, sebagai salah satu cikal bakal berdirinya NU.

Pada saat itu, tambah staf khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI ini, semangat kebangsaan muncul terutama sekali dari kalangan muda. Kaum muda itu berasal dari beragam etnik atau suku, tetapi dalam diri mereka tersimpan perasaan nasib yang sama.

“Bangsa Indonesia memiliki keunikan. Memiliki perbedaan-perbedaan satu sama lain, tetapi tetap di dalam satu semangat atau satu wadah kebangsaan,” ujarnya.

Namun, kini NU diusia yang ke-89, spirit para kiai pada masa-masa awal NU didirikan lambat laun mulai luntur. Padahal, lanjut Kacung, saat ini tantangan NU semakin kompleks.

Dalam catatan mantan Ketua PW Lakpesdam NU Jawa Timur ini, tantangan NU ke depan bukan hanya dari sisi keagamaan, melainkan juga bidang-bidang lain, diantaranya, bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Menurut Kacung, saat ini telah bemunculan beragam paham keagamaan. “Ini tantangan dari sisi keagamaan. NU tidak cukup hanya mempertahankan paham keagamaan yang dianutnya, melainkan harus harus aktif untuk mengembangkannya,” tegas dia.

Sementara pada sisi ekonomi, pendidikan dan kesehatan, harus diakui warga NU dalam keadaan tertinggal. Ketertinggalan ini, kata Kacung, tidak lepas dari fakta bahwa mayoritas warga NU tinggal di pedesaan. “Kondisi ini yang selama ini kurang mendapat perhatian pemerintah,” tandasnya.

Kemunculan beragam aliran (keagamaan) baru yang menjadi perdebatan sebenarnya merupakan persoalan klasik yang jelas-jelas telah mendapat jawaban tuntas dari para ulama terdahulu.

“Amaliah yang dipersoalkan oleh beberapa kalangan merupakan tradisi masyarakat yang dapat dikatakan telah menjadi cita dan jati diri bangsa Indonesia, dan semuanya telah dijawab secara paripurna oleh salafuna al sholih (ulama terdahulu),”kata KH Muhyiddin Abdusshomad, yang juga menjadi pembicara pada kegiatan tersebut.

Namun, mengapa beberapa kelompok yang membawa aliran baru dengan mengusung gagasan klasik itu, masih mendapat tempat di hati masyarakat? Hal ini, menurut Rais Syuriah PCNU Jember ini, karena disamping semangat mereka dalam menyebarkan dan menanamkan suatu keyakinan kepada masyarakat tak pernah pudar serta memiliki nyali yang tak kunjung surut, juga karena mereka memiliki kemampuan yang canggih.

“Cara kerja mereka terencana dengan baik dan mereka juga mampu menjalankan pembagian tugas dengan rapi. Mereka sangat canggih,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Jember ini.

Dengan demikian, menurut Kiai Muhyiddin, bisa dipahami bahwa permasalahan itu terletak pada generasi penerus yang tidak memahami ajaran-ajaran yang dianut warga NU tersebut, atau kalaupun mereka paham tetapi tidak ada usaha untuk menyebarkannya.

“Maka kalau begitu, tidak bisa disalahkan jika umat berusaha mencari pedoman lain dalam kehidupan sehari-hari yang menurut mereka lebih ‘sesuai dengan al-Quran dan al-Hadits’,” tandasnya

Kiai Muhyiddin menegaskan, terdegrasinya ajaran aswaja di tengah masyarakat, sebenarnya bukan karena dalil-dalil atau konsep yang ditawarkan ideologi “pendatang baru” itu lebih kuat daripada keyakinan yang telah lama berkembang di Indonesia, melainkan berasal dari internal NU sendiri yang dinilai enggan untuk melakukan upaya penguatan ideologi.

“Akibatnya, ketika ada yang menyerang, kita tidak siap untuk melakukan perlawanan,” tegas kiai berdarah Madura ini.

(Hdy / Nky)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini