05:45:10 WIB
Selasa, 30 Mei 2017
Sabtu, 07 November 2015 , 15:26 WIB

Kemenlu RI Sesalkan Isu Makelar Pertemuan Jokowi dan Barack Obama

Luska Mujidayanti
73353-Presiden Jokowi dan Presiden Obama (Foto: Setkab)
Presiden Jokowi dan Presiden Obama (Foto: Setkab)

Dalam keterangan resminya, Kemlu RI menyebut isu yang diangkat sangat tidak akurat, tidak berdasar dan sebagian mendekati ke arah fiktif.

JAKARTA, Jaringnews.com - Menanggapi adanya isu soal pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Presiden Barack Obama di fasilitasi oleh makelar, Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu) menyesalkan adanya artikel yang berjudul "Menunggu di Lobi Gedung Putih”  yang menjadi awal bergulirnya isu pertemuan Presiden Joko Widodo dan Barack Obama dirancang oleh konsultan asing berbasis di Singapura dan lembaga pelobi di Las Vegas.

Dalam keterangan resminya, Kemlu RI menyebut isu yang diangkat sangat tidak akurat, tidak berdasar dan sebagian mendekati ke arah fiktif.

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Amerika Serikat adalah atas undangan Presiden Obama yang disampaikan langsung pada saat pertemuan bilateral di sela-sela KTT APEC 2014 di Beijing pada 10 November 2014. Undangan ini kemudian ditindaklanjuti dengan undangan tertulis yang disampaikan melalui saluran diplomatik,” begitu tertulis dalam keterangan resmi Direktorat Informasi Media Kemlu RI, Sabtu siang (7/11)

Ditambahkan, jadwal Presiden Jokowi serta perhatiannya akan berbagai isu penting dan mendesak mengakibatkan undangan ini baru dapat dipenuhi pada tanggal 25-27 Oktober 2015. 

Ditegaskan pula bahwa sama halnya dengan persiapan kunjungan Presiden RI ke negara-negara lain, persiapan kunjungan ke Amerika Serikat tersebut dipimpin oleh Menteri Luar Negeri, berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga, parlemen, KBRI Washington D.C., Konsulat Jenderal RI di San Francisco, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, serta kalangan bisnis dan para pemangku kepentingan lainnya.

Kemlu RI juga mengklaim, persiapan untuk kunjungan tersebut juga mencakup sejumlah pertemuan tingkat Menteri dan kunjungan timbal balik para Menteri dan pejabat tinggi dari kedua negara, sejumlah misi bisnis, dan puncaknya adalah pertemuan antara Menteri Luar Negeri RI dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat di Washington, D.C. pada tanggal 21 September 2015. Hal ini menandai pentingnya kesuksesan hubungan bilateral Indonesia-Amerika Serikat yang bukan hanya menjadi kepentingan Pemerintah, namun juga berbagai pemangku kepentingan di Indonesia secara menyeluruh.

"Persiapan intensif ini memungkinkan ditandatanganinya lebih dari 18 perjanjian bisnis senilai lebih dari US$ 20 miliar dan sejumlah Nota Kesepahaman antara Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia. Kunjungan ini juga meningkatkan hubungan kedua negara menjadi mitra yang lebih strategis,” lanjut keterangan itu.

Ditegaskan Kemlu RI lagi bahwa Pemerintah RI tidak menggunakan jasa pelobi dalam mengatur dan mempersiapan kunjungan Presiden ke Amerika Serikat. Kemlu juga tidak pernah mengeluarkan anggaran Kementerian untuk jasa pelobi, namun memahami bahwa penggunaan jasa pelobi merupakan bagian nyata dari dunia politik di Amerika Serikat dan seringkali digunakan oleh pemangku kepentingan dan pemerintah negara-negara lain di dunia untuk memajukan kepentingan mereka di Amerika Serikat.

"Merujuk pada tuduhan yang tidak berdasar akan adanya perselisihan antara Menteri Luar Negeri dan salah satu menteri lain pada saat persiapan kunjungan ini, Kementerian Luar Negeri menyesalkan bahwa seorang akademisi yang terhormat (penulsi artikel, Michael Buehler) dapat menyampaikan suatu pernyataan yang tidak benar,” tutup keterangan itu.

Dalam isu yang tersebar, pertemuan Presiden RI Joko Widodo dan Presiden AS Barack Hussein Obama beberapa waktu lalu difasilitasi oleh konsultan.

Akademisi dari Australia National University (ANU) Dr. Michael Buehler mengungkapkan pertemuan tersebut diatur konsultan dari Singapura yang membayar sebesar 80 ribu dolar AS kepada perusahaan PR di Las Vegas.

Dalam artikelnya di website kampus itu, Buehler menyebutkan konsultan Singapura Pereira International PTE LTD menjalin kontrak dengan  R&R Partners, Inc. yang berada di Los Angeles. Perjanjian tanggal tanggal 8 Juni itu dicatat Kementerian Hukum AS pada tanggal 17 Juni.

Dalam kontrak itu, R&R Partners berperan sebagai pihak yang mewakili lembaga eksekutif Republik Indonesia dan akan mengatur pertemuan dengan pembuat kebijakan dan anggota Kongres juga Kementerian Luar Negeri.

( Lus / Deb )

Berita Terkait

Komentar