12:26:01 WIB
Minggu, 25 Juni 2017
Sabtu, 07 Juni 2014 , 12:57 WIB

Wahada Mony: Membedah Personalisasi Politik Capres

jaring news
62843-Pasangan Capres 2014, Prabowo Hatta dan Jokowi JK (Foto - Ist)
Pasangan Capres 2014, Prabowo Hatta dan Jokowi JK (Foto - Ist)

Pilpres merupakan panggung laga para aktor politik antara Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

JAKARTA, Jaringnews.com - Politisi juga adalah manusia biasa, meski mereka memiliki beragam kelebihan. Kendati demikian, mereka juga memiliki sejumlah kelemahan yang menjadi sisi gelap dirinya. Mereka bukanlah manusia setengah dewa, sosok manusia yang benar-benar memiliki dan memperjuangkan nilai-nilai kebajikan publik (Philoshoper of King). Tetap saja, mereka selalu memiliki sudut gelap, layaknya para manusia biasa (ordinary people).

Politisi tentunya bukan makluk yang suci. Mereka memiliki ambisi dan hasrat yang tidak sepenuhnya bersih. Namun, panggung politik selalu menuntut sosok politisi yang tak ada cela dan bahkan mendekati kesempurnaan, karena publik terlanjur mengharapkan mereka sebagai sosok figur yang luar biasa (extra ordinary people).
Perkembangan politik bangsa dewasa ini, memberi ruang tersendiri bagi politisi kita. Para politisi naik dan kemudian bersinar cemerlang hingga mampu menduduki jabatan politik bergengsi baik dalam Partai Politik (parpol) maupun pada level pemerintahan. Sebut saja dua politisi terbaik yang saat ini maju sebagai Calon Presiden (capres) di Republik ini. Prabowo Subianto yang merupakan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra dan juga Joko Widodo (Jokowi) Gubernur DKI Jakarta. Kemajuan dua tokoh ini adalah sebuah keberuntungan politik karena dilandasi faktor elektabilitas, jejak pendapat, modal politik, dukungan rakyat serta kesiapan figur. Tentu merupakan langkah baru dalam perkembangan demokrasi di Indonesia.

Terpilihnya Prabowo Subianto dan Jokowi dalam kancah pertarungan Pemilihan Presiden (pilpres) 2014 ini, jelas memperlihatkan kuatnya pesona kepribadian dibanding determinasi partai. Kecenderungan seperti inipun sudah sejak lama dijumpai pada negara-negara demokrasi lainnya seperti Amerika, Inggris maupun beberapa negara Eropa lainnya. Dan kemudian fenomena politik serupa dikenal sebagai era personalisasi politik (Capra dan Zimbardo, 2004).

Kecenderungan ini yang masih menurut Capra dan Zimbardo, karena disebabkan oleh 3 (tiga) hal penting. Pertama, semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat serta semakin mudahnya mereka mendapatkan informasi, kedua, peran mobilisasi dan elite politik yang makin terbatas dan ketiga, peran media massa yang semakin gencar sebagai alat politik. Dalam kondisi semacam itu, dapat dipahami bahwa karateristik kepribadian menjadi patokan pemilih untuk memilih pemimpin politik mereka. Mana kala Presiden SBY pernah membuktikan tesis itu dalam Pilpres 2009 silam. Dan Jokowi adalah bukti figure personalisasi politik saat pemilihan Gubernur DKI Jakarata. Potensi personalisasi politik seorang kandidat terukur jika sukses memimpin pertarungan sebagai seorang pemimpin politik.

Kepemimpinan Politik

Persepsi tentang sifat dan kualitas kandidat politik yang bertarung dalam Pilpres kali ini akan terukur dan ditentukan oleh trait (sifat) dan kualitas kepemimpinan politik (political leadership) antara Prabowo Subianto dan Jokowi. Dimana dua figure capres tersebut memiliki keunggulan, sifat, kualitas maupun ideologi politik yang masing-masing berbeda. Apalagi tuntutan ideologi, sikap-sikap dan nilai-nilai para kandidat capres yang harus kongruen dengan nilai-nilai dan sikap politik para pemilih. Karena akan menjadi faktor detrminan politik bagi keterpilihan pemimpin yang diinginkan rakyat. Dengan melihat berbagai pertimbangan politik yang terjadi seperti kondisi tingkat pendidikan pemilih, keterbukaan dan ketersediaan informasi tentang calon presiden semakin terbuka  serta track record para kandidat yang dianggap vital sebagai modal memilih pemimpin yang sangat diperhitungkan kedepan.

Artinya, kepemimpinan politik dari calon presiden tertentu akan turut mempengaruhi secara khusus elemen elektoral pemilu presiden pada 9 Juli mendatang. Maka dalam dimensi ini, paling tidak menurut Herman (1986) ada beberapa kunci karakter kepemimpinan politik yang justru menentukan sebagai seorang aktor politik anatara lain, 1) Keyakinan atau paham politik mendasar dari seorang pemimpin, 2) Gaya politik (the leader’s political style) dan 3) Pengalaman dan kemampuan politik sebelumnya.

Dari ketiga aspek tersebut memiliki penempatan kultur politik yang beragam pada 2 (dua) calon Presiden kita saat ini. Capres Prabowo Subinato memiliki sejarah keseharian politik sebagai sosok militer yang tegas, kuat dan berani dimedan pertemperuan mana pun. Mantan Danjen Kopassus ini memiliki keyakinan politik yang kuat bak ala militer untuk menjadi pemimpin besar politik dibangsa ini. Lewat mesin politik yang dibangun, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada 6 Februari 2008. Semakin saja memuluskan keyakinannya sebagai pemimpin politik. Memiliki gaya politik yang unik bak orator ulung di atas panggung politik menjadi ciri khas ansich yang dimiliki. Namun sejarah politik masih menyisahkan nama besar Prabowo pada peristiwa 1998 silam. Ini kemudian menjadi pengalaman pahit dalam sejarah politik dinegeri ini terutama oleh para rival politiknya. Ironisnya, insiden 1998 terpolititsasi secara provokatif kedalam personalisasi politik capres Prabowo yang didampingi Wapres Hatta Rajasa itu.

Beda Prabowo beda lagi keseharian politik Jokowi. Kepemimpinan Capres Jokowi terlihat saat menjadi Walikota Solo yang sederhana dan begitu merakyat. Personalisasi politiknya memberikan daya tarik politik yang berbeda untuk rakyat dengan gaya politik blusukan ke masyarakat. Dengan memiliki modal politik dan tren elektabilitas yang menonjol sehingga kemudian terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta. Tanpa diduga, karier politiknya kembali melejit secara mulus. Berkat dukungan rakyat, hasil poling survey yang tinggi serta punya segudang pengalaman didunia pemerintahan, dengan begitu meyakinkan partai PDIP mengusungnya sebagai calon presdien yang didampingi Jusf Kalla. Namun sayang, lawan politik menuduh Jokowi sebagai Capres ‘Boneka’ yang konon kabarnya disetir untuk kepentingan kelompok tertentu?

Dua capres ini tentunya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing serta memiliki catatan tersendiri dimata rakyat sebagai pemangku elektoral di pilpres. Dalam iklim politik kampanye seperti ini mengharuskan para capres untuk memainkan gaya politik secara santun dan meyakinkan elektoral dalam menyampaikan pesan politik. Kemampuan personalisasi politik kandidat akan mampu mempengeruhi preferensi pemilih politik seseorang. Karena itu akan menjadi ciri khas maupun karakteristik kepribadian seorang aktor politik.

Perebutan Pengaruh Politik dan Kekuasaan

Realitas politik menunjukkan bahwa pilpres merupakan panggung laga para aktor politik antara Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Mereka didukung dengan kekuatan modal sosial, modal ekonomi, modal politik serta modal kultur yang dimiliki kedua pasangan capres cawapres masing-masing.  
Dalam kehidupan sehari-hari pun deawasa ini, begitu santer terdengar isu-isu politik serta komptensi isi program para capres yang kian ramai dibicarakan oleh masyarakat dari beragam latar belakang kelas sosial, geografis dan budaya. Kunci dari proses pertarungan politik adalah bagaimana beragam informasi politik dikontestasikan dan dikonstruksikan dalam arena politik sehingga mampu mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku pemilih. Setiap saat, informasi politik terus berkembang karena meluasnya isu-isu politik.

Ketatnya persaingan dalam laga pertarungan pilpres kali ini, menjadikan pertarungan pesan politik, ide, dan gagasan politik makin sengit. Hal ini misalnya dapat kita saksikan bagaimana peredaran informasi politik seputar kampanye bahkan memsuki hari pencoblosan pemilihan presiden dan wakil presiden. Pertarungan politik tidak hanya terkait dengan kondisi aktual antar parpol pendukung, akan tetapi juga terkait dengan para kandidat para capres. Sebab, baik parpol pendukung maupun kandidat capres berusaha me-manage keseluruhan informasi politik tentang dirinya maupun kandidatnya. Dan berusaha meminimalisir politik negatif yang terjadi dan berkembang. Pola ini dijalankan dengan teknik-teknik persuasif yang cukup canggih baik oleh para tim pemenangan sertapun para konsultan politiknya.
Akan tetapi semua akan ditentukan oleh rakyat yang berdaulat. Tentu tidak semua pemilih menyadari arti pentingnya tentang pertarungan pesan-pesan politik, ide maupun gagasan politik yang menjamur. Hanya kalangan pemilih rasional saja yang melihat hal ini sebagai indikator utama dalam menilai dan mengevaluasi parpol dan kandidat yang akan dipilihnya pada arena pemilihan.

Rakyat memilih prabowo karena kepemimpinannya yang tegas, sikapnya yang berani dan penantang. Sementara masyarakat banyak menaruh dukungan politik kepada Jokowi karena merakyat, bersahaja dan komunikatif. Pertarungan politik antara prabowo versus Jokowi mulai terjadi pada level pengaruh kekuasaan. Intrik personalisasi politik kini merambah wajah kepemimpinan politik dari kedua capres tersebut. Masing-masing kandidat memiliki effeck politik untuk menarik simpati massa terhadap faktor dukungan. Keduanya saling berebut kekuasaan publik untuk memenangkan pertarungan pada pilpres mendatang. Prabowo-Hatta ingin menyatukan Indonesia (Indonesia satu), sementara Jokowi ingin membuat negara kuat dan hebat (Indonesia hebat).

Wahada Mony: Fungsionaris PB HMI Periode 2013-2015 & Koordinator Indonesian Democration Reform Institute atau INDEI
 

( adm / Mys )

Komentar