12:26:49 WIB
Minggu, 25 Juni 2017
Senin, 19 Mei 2014 , 17:14 WIB

Kastorius Sinaga: 'Duel Maut' Jokowi Vs Prabowo, Siap Kalah dan Siap Menang?

Kastorius Sinaga
62096-Pasangan Capres 2014, Prabowo Hatta dan Jokowi JK (Foto - Ist)
Pasangan Capres 2014, Prabowo Hatta dan Jokowi JK (Foto - Ist)

Untuk pertama kali dalam sejarah Indonesia sejak kemerdekaan, Pilpres kita berlangsung sangat mirip dengan kontestasi pemilu presiden di negara-negara demokrasi maju seperti Amerika Serikat.

JAKARTA, Jaringnews.com - Akhirnya, genap sudah jawaban teka-teki format cawapres berikut koalisi dari dua kandidat presiden paling menonjol di Pilpres Indonesia 2014. Joko Widodo mengusung Jusuf Kalla, sementara  Prabowo memilih Hatta Rajasa.

Pilihan terhadap cawapres masing-masing di atas sangat cerdas. Masing-masing cawapres tersebut melengkapi keunggulan dari masing-masing capres. Baik Jusuf Kalla maupun Hatta Rajasa adalah dua tokoh senior yang telah malang melintang dan memiliki kepiawaian di bidang politik dan pemerintahan. Kedua negarawan ini terbukti telah turut memberikan kontribusi panjang bagi kemajuan Indonesia khususnya di 10 tahun terakhir di bawah kepemimpinan SBY.

Hampir dapat dipastikan bahwa pertarungan Pilpres 2014 ini hanya dua paket yaitu Jokowi-JK versus Prabowo-Hatta. Prediksi munculnya poros ke tiga yang diusung oleh Golkar dan Demokrat, rasanya, semakin jauh dari kenyataan. Dari hasil Rampimnas masing-masing ke dua partai ini kemarin (18/5), hampir dapat dipastikan bahwa kedua partai menjauh dari pilihan alternatif untuk membentuk poros ke tiga.

Rapimnas Golkar kemarin telah ‘mengunci’ rapat-rapat posisi Aburizal Bakri untuk semakin deadlock di dalam melakukan negosiasi dan manuver politik. Rapimnas yang berlangsung di JICC tersebut mengamanatkan bahwa dialah satu-satunya pemegang mandat capres berikut penentu arah jangkar koalisi partai berlambang pohon beringin tersebut. Mandat ini jelas-jelas, sementara ini, membawa ARB ke lorong buntu negosiasi posisi dan koalisi Golkar. Prasyarat rapimnas tersebut hampir tak mungkin diwujudkan di dalam konstelasi yang tersedia saat ini.  

Sementara itu, aspirasi mayoritas peserta Rapimnas Demokrat di Hotel Sultan kemarin, ketika ditawarkan memilih satu dari empat opsi yang tersedia, memilih opsi ke empat yaitu netral. Empat opsi yang ditawarkan adalah (1) berkoalisi dengan Poros Jokowi, (2) berkoalisi dengan poros Prabowo (3) membentuk poros baru dengan Golkar (4) netral. Meski hasil akhir sikap Partai Demokrat masih akan diumumkan oleh SBY besok Selasa 20 Mei 2014  --persis batas akhir tenggat waktu pendaftaran capres-- hanya ‘mujizat’ politik lah yang akan memungkinkan lahirnya poros baru ke tiga yang akan diusung bersama Golkar. Waktu semakin tak bersahabat bagi Golkar dan Demokrat untuk bisa mencapai final deal di last minutes mengingat prasyarat yang diajukan masing-masing cenderung agak bersifat saling menegasikan.  Dengan kata lain, ruang gerak negosiasi ke dua partai begitu sangat terbatas, sementara kalkulasi konsekwensi pilihan sangat begitu luas namun fundamental.

Prediksi saya, Golkar dan Demokrat, tampaknya, lebih condong melihat dinamika perkembangan duel maut Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta ke depan. Mengingat praktik presidensial di atas sistem multipartai, keputusan untuk menentukan “di dalam” atau “di luar” pemerintahan juga masih tersedia dan terbuka di depan meski itu harus dilakukan usai Pilpres Juli yang akan datang.  Perolehan suara elktoral dalam Pilpres harus dibarengi dengan dukungan “suara DPR” untuk mewujudkan stabilitas pemerintahan di dalam mengambil kebijakan-kebiajakan strategis di lima tahun mendatang.

Pertarungan dua paket Prabowo-Hatta vs Jokowi-JK akan menjadi milestone maha penting konsolidasi demokratisasi di Indonesia. Karenanya harus diipastikan agar penyelenggaraan Pilpres mendatang berlangsung jujur, adil, bebas, dan juga aman. KPU dan Bawaslu harus memastikan bahwa berbagai pelanggaran di Pileg kemarin dapat direduksi seminimal mungkin. Tugas pemangku keamanan Pemilu, dalam hal ini Polri dan elemen stakeholder keamanan Pemilu lainnya, juga sangat ditantang untuk benar-benar fokus menjaga keamanan dan secara antisipatif mencegah secara dini setiap potensi gangguan atas kelancaran Pilpres yang akan datang.

Setelah Jokowi dan Prabowo menentukan cawapresnnya, banyak pengamat mengatakan bahwa hampir semua dimensi utama mainstream politik Indonesia relatif terwakili, antara lain, dimensi sipi/militer, jawa/luar jawa, nasionalis/islam, progresif/tradisionali dan sebagainya. Spektrum politik aliran tersebut, meski lebih bermanfaat sebagai alat analisa untuk membantu menyederhanakan peta keseimbangan politik, namun dalam banyak hal, juga dapat digunakan sebagai instrumen mengukur peta kekuatan masing-masing kubu. Secara relatif, ke dua kubu memiliki kekuatan seimbang bila diukur dari perspektif politik aliran di atas.

Dari sisi matematik jumlah dukungan di DPR, kekuatan koalisi ke dua kandidat di atas tampak relatif berimbang. Jokowi didukung 4 partai koalisi yang menguasai 207 kursi DPR (37%), sementara Prabowo juga ditopang oleh koalisi 4 partai dengan penguasaan sebanyak 201 kursi (35,9%). Bedanya sangat tipis, hanya 1,1% dengan kelebihan di kubu Jokowi.

Menurut hemat saya, perbedaan tipis 1,1% di atas tidak akan menjadi faktor penting. Magnitude pemilihan presiden setelah pendaftaran ke KPU akan semakin terfokus ke faktor figur berikut sosok pasangannya, yang tentu semakin dinilai kritis oleh publik selama sebulan masa kampanye ke depan. Masyarakat akan sangat antusias mengikuti serial pertarungan gagasan dalam debat capres yang akan berlangsung di bulan mendatang. Harap dicatat, jumlah pemilih Indonesia yang belum menentukan pilihannya hingga saat ini masih cukup tinggi yaitu 41%. Inilah pangsa pasar pemilih yang akan menentukan siapa pemenang Pilpres Juli 2014 mendatang.  

Untuk pertama kali dalam sejarah Indonesia sejak kemerdekaan, Pilpres kita berlangsung sangat mirip dengan kontestasi pemilu presiden di negara-negara demokrasi maju seperti Amerika Serikat. Sejak awal, pertarungan Pilpres hanya diperebutkan oleh dua kubu kandidat menonjol sehingga dapat dipastikan hanya berlangsung satu putaran. Karenanya demi kematangan demokrasi dan nasib Bangsa kita ke depan, ke dua kubu harus benar-benar menunjukkan prinsip pertarungan politik yang elegan dan dewasa dan benar-benar memegang prinsip “siap kalah dan siap menang”.

Penulis adalah  Pengamat Politik dan Ketua DPP Partai Demokrat   

 

( Kas / Ben )

Komentar