12:26:57 WIB
Minggu, 25 Juni 2017
Jum'at, 16 Mei 2014 , 15:51 WIB

Dr. Kastorius Sinaga: 'Kuda Hitam' Sri Sultan di Pilpres 2014?

Kastorius Sinaga
61973-Dr. Kastorius Sinaga (Jaringnews.com)
Dr. Kastorius Sinaga (Jaringnews.com)

Munculnya nama Sultan Hamengkubuwono X  yang dilansir oleh beberapa petinggi PD, memberi signal adanya pergerakan arus bawah yang mulai menggeliat dari kubu Demokrat.

JAKARTA, Jaringnews.com - Perhatian rakyat Indonesia, saat ini, tertuju pada kepastian peta koalisi Pemilu Presiden Juli 2014. Akankah pertarungan Pilpres hanya dua paket, head-to-head antara Jokowi versus Prabowo ?

Ataukah akan muncul paket poros ketiga, yang dimotori oleh Golkar dan Demokrat berikut partai lainnya seperti PKS, Hanura yang belum menentukan arah koalisinya ?

Pertanyaan ini mengundang rasa penasaran yang tinggi.  Banyak kelompok masyarakat menunggu kejutan menjelang Hari-H pendaftaran Capres, yang tinggal beberapa hari lagi. Kejutan tersebut, saat ini, terfokus pada kemungkinan munculnya Poros Ketiga, di luar mainstream duel maut pertarungan Jokowi-Prabowo.

Manuver Ical-Golkar, yang begitu lincah wira-wiri menjumpai Prabowo, menyambangi Jokowi di Pasar Gembrong, lalu dilanjutkan ke istana menemui SBY dan kemudian Kamis 15/5 bertandang ke Megawati, memberi signal bila Golkar ingin memegang “kartu truf” atas gambaran akhir konstelasi koalisi dalam pertarungan Pilpres yang akan datang. Hal ini dapat dimaklumi karena partai ini memang berada di urutan kedua hasil Pileg kemarin.  Partai berlambang beringin ini juga dikenal dihuni oleh politikus piawai yang berpengalaman di dalam melakukan lobi, negosiasi dan manuver. Posisi tersebut merupakan sebuah modal politik yang cukup signifikan.

Disamping hal itu, orientasi politik Golkar yang memiliki habitat berada di dalam pemerintahan --dan menghindari posisi di luar pemerintahan atau oposisi-- juga turut mendorong langkah partai berlambang pohon beringin ini untuk lebih dulu menjajaki segala kemungkinan --dan juga ketidak-mungkinan-- yang tersedia sebelum mengambil keputusan final.  

Hingga saat ini, setelah penjajakan ke semua “stakeholder politik utama” di atas dilakukan, Golkar belum juga memberi signal kemana jangkar pilihan koalisinya akan ditambatkan. Lewat media massa, ARB selaku Ketum dan Capres Golkar menyatakan bahwa semuanya diserahkan dan diputuskan di Rapimnas. Forum tertinggi setelah Munas ini akan digelar hari Minggu 18 Mei 2014, dua hari lagi saat tulisan ini dibuat.

Langkah menyerahkan ke Rapimnas ini sangat tepat dan cukup elegan, baik dari segi mekanisme maupun dari segi political timing. Keputusan yang diambil lewat mekanisme Rapimnas akan membuat mesin partai yang dikenal “well organized” ini terkonsolidasi kembali. Bisa dipastikan Rapimnas Golkar akan menjadi alot. Tetapi apapun hasilnya, secara fundamental, akan sangat mewarnai dan bahkan menentukan nasib Golkar sendiri dan juga konstelasi pertarungan Pilpres yang akan datang. Semua pihak sangat menunggu proses dan hasil Rapimnas Golkar saat ini.

Berbeda dengan Golkar yang rajin menjemput bola, Partai Demokrat terkesan lebih pasif dan bersifat menunggu selama ini. Hal ini lebih dipengaruhi oleh posisi perolehan suara PD yang berada diurutan ke empat dari lima besar pemenang Pileg berikut faktor hasil riil survei tahap akhir terhadap ke 11 peserta konvensi capres PD. Disamping itu, SBY sendiri, tampak, lebih bersikap mengamati dan menunggu proses dan hasil deal-deal politik yang ada dari semua kubu, khususnya dua kubu menonjol yaitu,  Jokowi dan Prabowo. Sikap tenang SBY ini cukup bijak agar iklim politik makro tetap terjaga kondusif sembari memberi kesempatan kepada semua tokoh capres, elit partai  berikut kubunya masing-masing untuk bisa berproses di atas kepiawaian masing-masing tanpa dipengaruh manuver politik yang dia kembangkan. Harap dicatat, saat ini, figur SBY secara de facto dan de jure, masih merupakan magnitude politik yang sangat berpengaruh sehingga gerak manuver yang dia kembangkan akan bisa berpengaruh ke dalam proses kontestasi capres dan peta koalisi yang ada.

Namun, bilapun SBY terkesan “menahan diri”, itu bukan berarti bahwa elit PD diam tak bergerak menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru yang bersifat relevan.  Munculnya nama Sultan Hamengkubuwono X  yang dilansir oleh beberapa petinggi PD, seperti oleh Ketua Harian Sjarif Hasan dan Sekretaris Dewan Pembina, Amir Sjamsudin, memberi signal adanya pergerakan arus bawah yang mulai menggeliat dari kubu Demokrat.

Baru dilansir beberapa hari saja, publik tersentak penuh penasaran, dan bahkan, mulai menduga bila sosok Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai kuda hitam di tengah-tengah antiklimaks duel maut Jokowi versus Prabowo. Kontan, pertemuan kader Demokrat yang juga Gubernur Jawa Timur, Pakde Karwo, dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada pelantikan pengurus PA GMNI Yogyakarta periode 2013-2017 di Graha Kunthi Yogyakarta, Kamis (15/5) mendapat sorotan tidak biasa dari awak media massa. Media massa berebut mengkonfirmasi tentang kemungkinan majunya Sri Sultan Hamengkubuwono sebagai capres  yang akan diusung Partai Demokrat.  

Politik adalah seni mengelola kemungkinan. Rasanya, adagium ini menunjukkan kebenarannya pada lika-liku dinamika politik Indonesia jelang deadline hari-H pengajuan capres. Meski tidak tersirat secara manifest, hampir dapat dipastikan bahwa isu Sri Sultan Hamengkubuwono X akan muncul dalam Rapimnas Partai Demokrat yang akan digelar  di Hotel Sultan, Jakarta Minggu 18 Mei besok.

Penilaian terhadap sosok Sri Sultan menjadi kuda hitam sangat logis karena beberapa faktor.

Pertama, elektabilitas Sultan lumayan tinggi meski yang bersangkutan berdiam diri selama ini tanpa ambisi menjadi capres. Bak satrio piningit, Sultan yang selama ini mengambila jarak sangat jauh dari hiruk-pikuk pencapresan, khususnya dimulai saat dia mengundurkan diri dari Nasdem jauh sebelum Pileg digelar,   tiba-tiba mencuat sebagai pelabuhan harapan bangsa ke depan.

Kedua, harus diakui Sri Sultan Hamengkubuwono X memiliki modal kultural yang sangat sulit ditandingi oleh siapapun khususnya di kalangan pemilih Pulau Jawa, tempat mayoritas pemilih Indonesia saat ini.  Modal kultural ini juga memiliki relevansi historis yang tinggi sesuai posisi Kesultanan Yogyakarta di dalam urat nadi eksistensi dan sejarah perjalanan NKRI. Bila faktor ini dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, maka ia akan membawa nuansa dan enerji baru bagi politik Indonesia.

Ketiga, meski elektabilitas Jokowi tertinggi saat ini, menurut survei SMRC terakhir, Jokowi juga mengalami kecenderungan penurunan elektabilitas sementara grafik kenaikan justru dialami oleh pesaing utamanya, yaitu Prabowo. Sehubungan dengan tren ini, menurut survei teranyar, jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan masih sangat tinggi yaitu berkisar 41 %. Tentu, besarnya porsi pemilih yang belum memberi pilihan capresnya tersebut, bisa saja dipengaruhi oleh belum jelasnya cawapres Jokowi maupun cawapres Prabowo.

Namun di pihak lain, sebenarnya, besarnya jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan di atas memberi gambaran bagi kita bahwa sebenarnya pemilih Indonesia masih menunggu figur lain untuk digulirkan ke publik. Artinya, jumlah pemilih yang belum memiliki putusan tersebut menjadi celah potensial bagi munculnya sosok kuda hitam di dalam percaturan politik Indonesia. Hal ini lebih dimungkinkan bila yang diendorse adalah seorang figur populer yang memiliki magnitude politik berkelas seperti sosok Sri Sultan Hamengkubuwono X.  

Rapimnas Golkar dan Demokrat akan di gelar di hari yang sama, yaitu Minggu 18 Mei 2014, dengan lokasi yang sangat berdekatan: Demokrat di Sultan, Golkar di JICC, Jakarta International Convention Center. Hasil Rapimnas dari ke dua partai yang menguasai 152 kursi (27,2%) –lebih dari cukup untuk memenuhi syarat presidential treshold-- ini tentu akan menjadi milestone fundamental peta politik Indonesia saat ini dan ke depan. Lewat Rapimnas itu pulalah juga masing-masing partai akan menentukan nasibnya, apakah menjadi “sesuatu” atau “tidak sama sekali” di kontestasi Pilpres Juli 2014. Jawabannya kita tunggu.

Penulis adalah pengamat politik dan juga Ketua DPP Partai Demokrat
 

( Kas / Ben )

Komentar