04:25:09 WIB
Kamis, 29 Juni 2017
Minggu, 11 Desember 2016 , 12:19 WIB

Haskarlianus Pasang Lah yang Diduga Menjebloskan Andi-Japin ke Penjara

Johannes Sutanto de Britto
80903-Pertemuan Masyarakat Adat Silat Hulu bersama pemilik Sinar Mas di Singapura (Foto: Dok. Ritong)
Pertemuan Masyarakat Adat Silat Hulu bersama pemilik Sinar Mas di Singapura (Foto: Dok. Ritong)

"Saya sempat dibujuk-rayu Pak pasang untuk kerjasama. Saya bilang, tidak bisa kerjasama dengan Bapak. Di tempat saya, tidak ada hak Bapak."

SILAT HULU, Jaringnews.com - Kampung Silat Hulu adalah salah satu perkampungan masyarakat adat Dayak Kendawangan yang sejak lama menolak kehadiran berbagai bentuk perusahaan yang ingin beroperasi di wilayah adat mereka seperti perkebunan kelapa sawit dan pertambangan.

Meski banyak tawaran harga tanah dan pekerjaan yang menggiurkan dari berbagai perusahaan, warga tetap berpegang teguh pada prinsip pengelolaan alam secara mandiri dan berkelanjutan. Pantang bagi mereka menjual hutan tanahnya kepada pihak perusahaan.

Diketahui, konflik antara masyarakat adat Silat Hulu dengan PT BNM (Grup Sinar Mas) dimulai pada April tahun 2008 ketika pembukaan lahan perkebunan sawit seluas 350 hektar yang menggusur areal perladangan, kebun warga dan kuburan. Masyarakat Adat Dayak Silat Hulu melakukan perlawanan dan menyita alat berat milik PT BNM. Perusahaan kemudian melaporkan hal tersebut ke polisi.

Dalam perjalanan waktu, Japin dan Vitalis Andi selanjutnya ditangkap, diadili dan dinyatakan bersalah melakukan perbuatan mengganggu jalannya usaha perkebunan, dan dipidana 1 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Ketapang, dengan perkara nomor 151/Pid.B/2010/PN.KTP.

Mereka pun mengajukan permohonan Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi. Hasilnya, pada 9 September 2011, Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 55/PUU-VIII/2010, telah membatalkan Pasal 21 dan Pasal 47 UU Perkebunan. Akhirnya, PK atas perkara yang dituduhkan pada keduanya dikabulkan Mahkamah Agung, Senin (5/10/2015).

Menjelang proses sidang tahap akhir dengan tersangka Japin dan Vitalis Andi, ada seorang warga Silat Hulu bernama Ritong yang berkesempatan menemui Pemilik Sinas Mas di Singapura untuk mengadukan kasus ini.

"Ternyata, pemilik Sinar Mas yang sebenarnya tidak menerima kabar bahwa di lapangan ada masalah. Saya waktu itu marah dan mau gebrak meja, tapi tersadar meja di hadapan saya keras. Kalau saya gebrak, takut terluka," akunya pada Jaringnews mengenang pertemuannya dengan para bos Sinar Mas di Singapura pada 2012 silam.

Saat ke Singapura inilah ia bertemu dengan Haskarlianus Pasang yang diduga menjebloskan Andi-Japin ke penjara.
 
"Saya sempat dibujuk-rayu Pak pasang untuk kerjasama. Saya bilang, tidak bisa kerjasama dengan Bapak. Di tempat saya, tidak ada hak Bapak."

Pak Pasang justru menjawab, "Kalau Bapak memikirkan kampung Bapak, orang kampung belum tentu pikirkan Bapak. Kapan ada waktu hubungi saya untuk kerjasama. Saya kasih kartu nama." 

Ritong pun hingga sekarang masih menyimpan kartu nama itu dan memaknai kerjasama ini sebagai bujuk rayu Pasang untuk melanjutkan aktivitas Sinar Mas. Namun, apa daya upaya Pasang untuk membujuk Ritong tak berhasil karena 100 persen warga Silat Hulu menolak kehadiran Sinar Mas.

"Saya bilang waktu itu. Kembalikan hak masyarakat adat. Kalau tidak dikembalikan, sawit akan ditebang. Kalau pun sawit sudah tertanam, itu tetap menjadi hak kami!" kisahnya dengan nada tinggi.

"Mulai dari nenek moyang, tanah ini digarap warga Dayak. Masak kita mau membiarkan digarap orang lain. Kita melawan. Saya bilang wilayah adat itu tetap tidak boleh menjadi hak perusahaan.

( Deb / Deb )

Komentar