04:25:04 WIB
Kamis, 29 Juni 2017
Kamis, 27 Oktober 2016 , 10:15 WIB

Warga Silat Hulu Minta Sinar Mas Kembalikan Tanah Adat

Johannes Sutanto de Britto
79938-Warga Silat Hulu Japin (kaos putih) di Ketapang, Kalimantan Barat  (Jaringnews/Johannes Sutanto de Briito)
Warga Silat Hulu Japin (kaos putih) di Ketapang, Kalimantan Barat (Jaringnews/Johannes Sutanto de Briito)

"Kita nggak takut karena karena memperjuangkan kebenaran. Kita tidak merusak dan mengganggu."

SILAT HULU, Jaringnews.com - Warga Silat Hulu di Ketapang, Kalimantan Barat  menegaskan komitmennya untuk menuntut hak atas tanah adat yang diserobot oleh PT Bangun Nusa Mandiri (Sinar Mas Group) dan kini ditanami kelapa sawit.

Menurut seorang warga bernama Japin, sesuai hukum adat, wilayah yang diserobot adalah wilayah adat warga Silat Hulu. 

"Ini adalah wilayah adat. Perusahaan menyerobot. Tak satu pun warga yang menyerahkan tanah adat pada perusahaan. Yang katanya ada sosialisasi, tidak ada seorang pun dari Sinar Mas yang muncul ke desa ini. Sudah jelas ada tapal batas pun, tetap saja diserobot dan dilanggar oleh perusahaan. Hal inilah yang dianggapnya sudah tidak benar dan melukai hati dan nurani masyarakat adat," akunya mengenang perseteruan dengan PT Bangun Nusa Mandiri.

Diketahui, Japin dipidana 1 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Ketapang dengan perkara nomor 151/Pid.B/2010/PN.KTP. Selanjutnya, tim pengacara masyarakat adat mengajukan permohonan Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi. Hasilnya, pada 9 September 2011, Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 55/PUU-VIII/2010, membatalkan Pasal 21 dan Pasal 47 UU Perkebunan. Ia pun bebas.

"Kita gembira karena sebagai masyarakat adat dibenarkan. Bagaimana pun, selanjutnya kami akan berusaha untuk tetap ambil hak atas wilayah adat. Kalau Sinar Mas masih mengganggu hak kami atas tanah adat, kami akan melawan. Kami akan memperjuangkan hak kami," tegasnya.

"Kami hanya ingin tanah wilayah Silat Hulu yang masuk Kecamatan Marau ini tidak diganggu, kalau Kecamatan Jelai Hulu silahkan," imbuhnya baru-baru ini pada Jaringnews.com.

Sayangnya, kini status tanah sengketa itu belum jelas. Warga Silat Hulu tetap menginginkan tanah itu kembali.

"Meski sawitnya sudah panen, kami tetap akan mengambil lahan itu. Kami akan tetap tanami karet. Kebetulan sudah panen sawitnya, biar lah kami yang panen dan sekitarnya kami tanami karet."

"Kita nggak takut karena karena memperjuangkan kebenaran. Kita tidak merusak dan mengganggu. Ini kan aneh. Yang dirugikan malah dihukum. Saya tidak melawan, saya hanya memperjuangkan hak saya. Kami yang dirugikan dan seharusnya bukan kami yang ditangkap. Sekarang yang dirugikan, justru yang ditangkap. Ya, namanya berhak, kita tidak boleh menyia-nyiakan. Kalau tidak ada yang berani, habis lah lahan kita."

Diketahui, Kampung Silat Hulu adalah salah satu perkampungan masyarakat adat Dayak Kendawangan yang sejak lama menolak kehadiran berbagai bentuk perusahaan yang ingin beroperasi di wilayah adat mereka seperti perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Meski banyak tawaran harga tanah dan pekerjaan yang menggiurkan dari berbagai perusahaan, warga tetap berpegang teguh pada prinsip pengelolaan alam secara mandiri dan berkelanjutan. Pantang bagi mereka menjual hutan tanahnya kepada pihak perusahaan.

( Deb / Deb )

Komentar