01:20:58 WIB
Senin, 29 Mei 2017
Senin, 24 April 2017 , 11:20 WIB

AS, China dan Rusia Adalah Negara dengan Belanja Militer Terbesar di Dunia

Johannes Sutanto de Britto
83220-Rudal balistik antarbenua RS-24 Yars Rusia/SS-27 Mod 2 Solid yang dipamerkan pada Parade Red Square (Foto: Ria Novosti/Reuters)
Rudal balistik antarbenua RS-24 Yars Rusia/SS-27 Mod 2 Solid yang dipamerkan pada Parade Red Square (Foto: Ria Novosti/Reuters)

Sebuh studi menemukan belanja militer Rusia mencapai US$ 69,2 miliar (sekitar 64 miliar euro) pada tahun 2016, meningkat 5,9 persen di tahun 2015.

STOCKHOLM, Jaringnews.com - Rusia menjadi pemboros militer terbesar ketiga di dunia pada tahun 2016, meskipun harga minyak dan sanksi ekonomi menerpa negara tersebut.

Sebuh studi menemukan belanja militer Rusia mencapai US$ 69,2 miliar (sekitar 64 miliar euro) pada tahun 2016, meningkat 5,9 persen di tahun 2015.

Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mengatakan dalam laporannya pemborosan ini meningkatkan pengeluaran dan beban berat pada ekonomi mendatang pada saat ekonomi Rusia berada dalam masalah serius karena harga minyak dan gas yang rendah dan sanksi ekonomi yang diberlakukan sejak tahun 2014.

Arab Saudi adalah pemboros terbesar ketiga di tahun 2015 namun turun ke posisi keempat pada 2016 karena pembelanjaannya turun 30 persen menjadi $ 63,7 miliar, meskipun terus terlibat dalam perang regional.

"Penurunan pendapatan minyak dan masalah ekonomi dengan guncangan harga minyak telah memaksa banyak negara pengekspor minyak untuk mengurangi pengeluaran militer," kata peneliti SIPRI Nan Tian sembari menambahkan bahwa Arab Saudi memiliki penurunan terbesar dalam belanja antara tahun 2015 dan 2016.

AS tetap menjadi pemboros terbesar karena pembelanjaannya tumbuh sebesar 1,7 persen antara tahun 2015 dan 2016 sampai US$ 611 miliar, sementara China meningkatkan pembelanjaannya sebesar 5,4 persen menjadi $ 215 miliar, tingkat yang lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya.

SIPRI mengatakan bahwa kenaikan pengeluaran militer AS pada tahun 2016 "dapat mengindikasikan akhir dari tren penurunan belanja" yang disebabkan oleh krisis ekonomi 2008 dan penarikan tentara AS dari Afghanistan dan Irak.

Pada tanggal 13 April, Amerika Serikat menjatuhkan bom non-nuklir terbesarnya, memukul posisi kelompok Negara Islam di daerah terpencil di provinsi Nangarhar timur di Afghanistan.

"Pola pengeluaran di masa depan tetap tidak pasti karena situasi politik yang berubah di AS," kata Aude Fleurant, Direktur Program SIPRI Arms and Military Expenditure (AMEX) dalam sebuah pernyataan.

Dipukul oleh serangkaian serangan teror sejak 2015, Eropa Barat meningkatkan pengeluaran militernya untuk tahun kedua berturut-turut, naik 2,6 persen pada tahun 2016. Secara keseluruhan belanja militer di Eropa Tengah melonjak 2,4 persen pada 2016.

"Pertumbuhan belanja oleh banyak negara di Eropa Tengah sebagian dapat dikaitkan dengan persepsi Rusia yang memiliki ancaman lebih besar," kata peneliti senior SIPRI Siemon Wezeman dalam pernyataan tersebut.

( Deb / Deb )

Komentar