22:48 WIB
Kamis, 23 Oktober 2014
Rabu, 20 Maret 2013 11:40 WIB

Senjata Kimia Digunakan di Suriah, NATO Pertimbangkan Aksi Militer

Johannes Sutanto de Britto
Dalam foto yang dirilis oleh kantor berita resmi Suriah SANA, korban serangan kimia di Khan al-Assal dirawat di rumah sakit (AP Photo/SANA).
Dalam foto yang dirilis oleh kantor berita resmi Suriah SANA, korban serangan kimia di Khan al-Assal dirawat di rumah sakit (AP Photo/SANA).

Serangan senjata kimia menunjukkan eskalasi yang berbahaya.

DAMASKUS, Jaringnews.com - AS dan PBB sedang berusaha memverifikasi klaim balik pasukan Suriah bahwa pemberontak kini telah menggunakan senjata kimia untuk pertama kalinya dalam konflik dua tahun di Suriah.

Panglima Tertinggi NATO Laksamana James Stavridis di Washington mengutuk situasi yang makin memburuk dengan mengatakan bahwa NATO sedang mempertimbangkan rencana anggotanya melakukan aksi militer di Suriah. Namun ia menekankan bahwa intervensi hanya akan terjadi dengan resolusi Dewan Keamanan PBB dan perjanjian dari 28 aliansi anggota.

Pernyataannya muncul setelah media pemerintah Suriah melaporkan teroris atau pemberontak Suriah mulau menembakkan roket yang mengandung bahan kimia pada Khan al-Assal di provinsi Aleppo provinsi.

Menteri Informasi Suriah Omran al-Zohbi menyebut serangan itu sebagai "eskalasi berbahaya." Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Muqdad mengatakan 31 orang telah tewas dan media pemerintah menambahkan bahwa sekitar 100 lainnya terluka.

Para pemberontak tentu saja membantah tuduhan tersebut dan balik menuduh pasukan rezim lah yang menyerang menggunakan rudal jarak jauh mematikan yang menyebabkan masalah pernapasan.

Kementerian Luar Negeri Rusia pun membenarkan gerilyawan yang telah menggunakan senjata kimia dan menyatakan keprihatinannya. Rusia cemas senjata tersebut jatuh ke tangan pemberontak.

Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan Amerika Serikat tidak memiliki bukti untuk mendukung tuduhan bahwa oposisi telah menggunakan senjata kimia."

Juru Bicara Departemen Luar Negeri Victoria Nuland dan Duta Besar AS untuk Moskow Michael McFaul pun akan mencari klarifikasi dari pihak berwenang Rusia.

(Deb / Deb)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini