22:32 WIB
Jumat, 31 Oktober 2014
Sabtu, 6 April 2013 07:00 WIB

Konzo, Penyakit yang Tak Ada Obatnya Berasal dari Singkong

JaringNews
Sianida berasal dari bahan makanan pokok, singkong pahit yang tidak diolah secara layak (Foto - fragrantica)
Sianida berasal dari bahan makanan pokok, singkong pahit yang tidak diolah secara layak (Foto - fragrantica)

Konzo dapat mempengaruhi otak, selain anggota tubuh penderitanya yang berusia muda.

JAKARTA, Jaringnews.com - Bila kita suka singkong, harap hati-hati, karena diketahui singkong bisa merusak kesehatan dari racun yang dihasilkannya. Tapi tak semua singkong.

Seperti dikutip dari Voa, Jumat (5/4/2013), tim peneliti internasional telah mendapati bahwa Konzo dapat mempengaruhi otak, selain anggota tubuh penderitanya yang berusia muda.

Konzo pada dasarnya terjadi karena keracunan sianida. Sianida berasal dari bahan makanan pokok, singkong pahit yang tidak diolah secara layak.

Nama konzo berasal dari bahasa Yaka yang berarti “kaki terikat.” Seperti yang dijelaskan Michael Boivin dari Universitas Negeri Michigan, penyakit itu tidak ada obatnya.

Ia memaparkan, "Penyakit ini mengakibatkan kerusakan syaraf gerak yang tidak dapat disembuhkan. Inilah yang menyebabkan kelainan cara berjalan dan gerak pada tungkai bawah, di mana jari-jemari menekuk ke dalam, tumit dan lutut membesar."
 
Mengingat konzo adalah penyakit syaraf, Boivin ingin mengetahui apakah konzo juga mempengaruhi fungsi otak serta kontrol terhadap tungkai bawah penderitanya. Karena itu ia dan para sejawatnya melakukan uji terstandardisasi terhadap anak-anak yang mengidap konzo di Republik Demokratik Kongo, serta anak-anak di komunitas yang sama yang tidak menunjukkan tanda-tanda luar mengidap penyakit tersebut.

Para ilmuwan mendapati bahwa anak-anak yang mengidap konzo memiliki nilai lebih rendah pada uji hafalan dan kemampuan menyelesaikan soal dibanding anak-anak yang tidak mengidap konzo.
 
Boivin menjelaskan bahwa anak-anak non-konzo yang tinggal di komunitas yang dilanda konzo sangat berisiko dalam beberapa aspek hafalan dan kemampuan pandang-ruang, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tinggal dengan kondisi serupa tetapi dari komunitas yang tidak dilanda konzo. Jadi, anak-anak yang tidak menunjukkan gejala-gejala fisik mengidap konzo namun tinggal di daerah yang dilanda penyakit itu pun memiliki kelemahan kognitif yang cukup besar.
 
Tidak ada obat untuk konzo, jadi yang harus diperhatikan adalah pencegahannya. Persiapan yang biasanya dilakukan sebelum mengonsumsi singkong pahit di antaranya merendam umbi tersebut dalam air selama beberapa hari, disusul dengan menjemurnya di bawah matahari.
 
"Dua praktik pengolahan tersebut biasanya mengurai cukup banyak turunan-turunan sianida yang akan membuatnya aman dikonsumsi," ujar Boivin.
 
Tetapi pada waktu masyarakat menghadapi kemarau dan kesulitan lainnya, orang biasanya mempersingkat pengolahan singkong. Jadi Boivin mengatakan cara untuk memberantas konzo adalah menekankan pentingnya cara-cara tradisional mengolah singkong pahit serta mendorong konsumsi bahan makanan pengganti bagi singkong yang kemungkinan beracun.
 
Penelitian Michael Boivin, peneliti utama Desire Tshala-Katumbay, dan para sejawat mereka diterbitkan di jurnal Pediatrics.

(Mys / Mys)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini
  
  • Terpopuler
  • Terkomentari