11:36 WIB
Rabu, 3 September 2014
Sabtu, 11 Mei 2013 17:05 WIB

Di Era Pasar Bebas, Indonesia Butuh 15.500 Insinyur per Tahun

Abdul Hady JM
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa  (Jaringnews/ Dwi Sulistyo)
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa (Jaringnews/ Dwi Sulistyo)

Pada saat perdagangan bebas di kawasan ASEAN tersebut, kebutuhan tenaga insinyur di Indonesia mencapai 90.500 orang.

SURABAYA, Jaringnews.com - Indonesia masih sangat kekurangan tenaga insinyur atau sarjana teknik. Pada tahun 2015 hingga 2025 mendatang, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 15.500 insinyur pertahunnya. Kebutuhan tersebut seiring dengan adanya ASEAN Free Trade Area (AFTA).
 
Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa dalam Kuliah Umum di Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Sabtu (11/5).

Dia mengatakan, pada saat perdagangan bebas di kawasan ASEAN tersebut, kebutuhan tenaga insinyur di Indonesia mencapai 90.500 orang, sementara ketersediaan insinyur atau sarjana teknik dari perguruan tinggi pertahun hanya berkisat 75.000 orang. Sehingga masih ada kekurangan 15.500 orang.

Dalam kuliah umum bertajuk 'Tantangan Insinyur dan Saintis dalam ASEAN Free Trade Area dan Mendukung Masterplan Percepatan dan Peluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)' itu, Hatta menjelaskan bahwa dalam perdagangan bebas ASEAN akan terjadi percepatan pertumbuhan ekonomi yang sangat tajam.

"Kawasan ASEAN akan menjadi pasar tunggal. Ketika Indonesia hanya dijadikan pasar, bukan produksi, maka Indonesia akan kalah. Karena itu, kawasan-kawasan di Indonesia harus memiliki daya saing," tandas Hatta.

Lebih lanjut dia menerangkan bahwa, kawasan-kawasan tersebut harus menjadi kawasan yang merata, tidak terlalu jauh perbedaannya. Karenanya pemerintah akan mendorong pertumbuhan perekonomian dari Sabang sampai Meraoke agar terjadi pemerataan pembangunan dan tidak hanya berpusat di Jawa.

Selain itu juga akan segera mengintregasikan kawasan–kawasan tersebut pada perdagangan global.

"Itu peluang besar, maka kita harus membangun konektifitas. Sebagai negara yang besar Indonesia harus menjadi kawasan industri bukan menjadi pasar, maka yang menjadi kunci adalah sumber daya manusia (SDM)," tukasnya.

Pembangunan konektifitas ini menjadi sangat penting. Sebab kegagalan persaingan negara pada pasar bebas diantaranya disebabkan pada gagalnya infrastruktur, kemudian kemandirian bangsa, serta kegagalan perlindungan sosial.

Namun, semua itu sebenarnya adalah bentuk dari kegagalan inovasi. Pasalnya, yang paling dibutuhkan untuk persaingan ASEAN adalah inovasi. "Maka kita harus sadar untuk menumbuhkan sarjana kita," sambungnya.

Untuk pembangunan infrastruktur, kata Hatta, jelas dibutuhkan banyak tenaga teknik, termasuk dalam menghadapi pertumbuhan teknologi yang sangat cepat hingga mampu mempercepat pertumbuhan peradaban. Peran insinyur untuk pembangunan konektifitas juga meningkatkan daya saing Indonesia pada era pasar bebas.

"Kita sudah membentuk komite persiapan menghadapi ASEAN Economic Community, saya ketuanya, dan saya melibatkan seluruh stakeholder mulai dari perguruan tinggi, pengusaha swasta dan pemerintah daerah, agar kita bisa mempersiapkan dan mengerjakan apa. Semua ada dokumennya dan akan mengerjakan apa sampai 2025 nanti," paparnya.

Hatta menyebutkan, salah satu langkah konkrit yang dilakukan dalam implementasi persiapan tersebut adalah menurunkan ongkos logistik dari 14,08 % menjadi 10%. Disebutkan bahwa itu sudah langkah nyata.

Penurunan biaya logistik ini bisa dilakukan dengan membangun pelabuhan, memperluas pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak, mempersiapkan Teluk Lamong, mempersiapkan Gresik sampai Tuban. Semua itu baru di pulau Jawa.

Sementara di luar Jawa ada pelabuhan Sorong, pelabuhan Bitung dan lainnya. "Semua itu bagian langkah konkrit supaya kita mampu menekan ongkos logisktik, karena persangian kita di situ. Selain itu kita juga memperbanyak perguruan tinggi teknik, sekolah-sekolah kejuruan untuk mengatasi kekurangan tenaga teknik," kata Ketua Umum DPP PAN ini.

Terlebih dalam MP3EI, pemerintah pusat sudah menetapkan strategi pembangunan dengan 6 koridor ekonomi. Mulai dari koridor ekonomi Sumatra, Kalimantan, Papua dan Merauke, Jawa, Sulawesi, serta Bali dan Nusa Tenggara.

Upaya dari 6 koridor ekonomi tersebut adalah mendorong pusat pusat pertumbuhan ekonomi, membangun konektifiti dan infratruktur sehingga terintegrasi. Pembangunan konektifiti itu untuk mengurangi cost transportasi barang, dan ini semua adalah peran insinyur.

Sementara itu, Rektor ITS Surabaya Tri Yogi Juwono mengatakan bahwa sekitar 800 mahasiswa yang hadir dalam kuliah umum tersebut diharapkan mampu menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan kedepan.

"Dengan pembekalan dari Bapak Menko Perekonomian ini, kami berharap mampu memberikan motifasi pada seluruh calon sarjana, khusus sarjana teknik. Meski dari insinyur, bisa menjadi pengusaha, politikus atau bahkan menjadi presiden," katanya.

(Hdy / Riz)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini
  
  • Terpopuler
  • Terkomentari