04:40 WIB
Jumat, 25 Juli 2014
Rabu, 26 September 2012 10:23 WIB

Dana Nasabah yang Dijamin LPS Mencapai Rp1.800 Triliun

Eben Ezer Siadari
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), C. Heru Budiargo
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), C. Heru Budiargo

Sebagai lembaga yang mengelola risiko, LPS berencana menerapkan premi berbasis risiko agar memberikan motivasi kepada bank-bank untuk mencapai standar kesehatan bank yang lebih baik.

JAKARTA, Jaringnews.com - Sampai dengan Juni 2012, eksposur penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencapai Rp1.800 triliun. Jumlah itu merupakan 59 persen dari total simpanan pada 120 bank umum dan di 1.829 Badan Perkreditan Rakyat (BPR) di seluruh Indonesia yan termasuk dalam skema maksimum penjaminan Rp2 miliar per nasabah per bank.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner LPS, C.Heru Budiargo dalam kata sambutannya pada seminar dan perayaan ulang tahun LPS ke-7 di Hotel Ritz Carlton Jakarta, hari ini (26/9).

Seminar tersebut dibuka oleh Wapres Boediono, turut dihadiri oleh Ketua DK OJK, Muliaman Hadad dan deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah.

Menurut Heru Budiargo, diantara seluruh risiko yang ditanggung LPS, risiko penjaminan merupakan yang relatif menantang dengan kondisi eksternal yang dinamis seperti saat ini. "LPS harus mampu melaksanakan kewenangan yang sepadan dengan tanggung jawabnya," tutur dia.

Dalam kaitan itu, Heru Budiargo mengatakan sebagai lembaga yang mengelola risiko, LPS berencana menerapkan premi berbasis risiko agar memberikan motivasi kepada bank-bank untuk mencapai standar kesehatan bank yang lebih baik. Dengan demikian, tambah dia, akan menghasilkan potensi risiko yang lebih kecil.

Heru Budiargo mengatakan sampai saat ini hanya 47 bank yang dicabut izin usahanya selama kurun waktu tujuh tahun LPS beroperasi. Total pembayaran klaim penjaminan yang sudah dilaksanakan mencapai Rp675 miliar.

Saat ini, LPS tengah melanjutkan proses divestasi Bank Mutiara yang kondisinya, menurut Heru Budiargo, sudah membaik dan beroperasi normal.

Ke depan, tambah dia, LPS berharap beberapa metode dalam pengelolaan bank gagal, seperti purchase & assumption dapat diterapkan. Metode ini, menurut Heru Budiargo, merupakan cara pembayaran klaim yang dapat ditekan serendah-rendahnya, dengan cara pengalihan sebagian aset dan liability bank gagal kepada bank lain yang bersedia mengambilnya.

(Ben / Deb)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini