07:25:15 WIB
Kamis, 26 Mei 2016
Sabtu, 19 Mei 2012 , 12:30 WIB

Ical Mengaku Pernah Beli Perusahaan Tanpa Modal Sepeserpun

Eben Ezer Siadari
Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie
Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie

Saya sudah berkali-kali membuktikannya.

JAKARTA, Jaringnews.com - Aburizal Bakrie mengatakan membangun sebuah usaha bisa dilakukan tanpa modal alias modal nol. Pemimpin kelompok usaha Grup Bakrie yang kini menjadi Ketua Umum Partai Golkar itu bahkan mengaku,  ketika ia pertama kali membeli sebuah usaha perkebunan yang kini menjelma jadi PT Bakrie Sumatra Plantations, dirinya sama sekali tidak mengeluarkan uang sepeser pun.  

“Membangun usaha itu bisa dilakukan tanpa modal atau dengan modal nol. Saya sudah berkali-kali membuktikannya,” tulis Aburizal Bakrie di blog pribadinya, sebagaimana dikutip oleh Jaringnews.com hari ini (19/5).

Bagaimana caranya?

“Saya ingat dulu saya ingin sekali memiliki usaha perkebunan. Kebetulan ada perkebunan Belanda NV Hollansch Amerikansse Plantage Matschappij. Perkebunan ini mau dijual dengan harga US$55 juta,” kisah pria yang akrab disapa Ical itu.

Pada saat itu, menurut Ical, ia samasekali tidak punya uang. Namun, ia ingin sekali memiliki perkebunan tersebut. “Ini tantangan bagi saya. Saya putar otak.”

Lalu ia mendalami profil perusahaan perkebunan tersebut. Di pembukuannya, ia melihat ada bahwa perusahaan itu mempunyai uang tunai sebesar US$15 juta. Dari orang dalam perusahaan, ia akhirnya mengetahui bahwa dana tunai itu diperuntukkan untuk replanting atau penanaman kembali.

Maka Ical ada ide. Ia bertanya apakah penanaman kembali itu dapat ditunda setahun atau dua tahun?  Ternyata ia mendapat jawaban positif. Artinya, ia mempunyai peluang untuk menggunakan sementara uang itu.

Lalu Ical kemudian  mencari uang tambahan untuk  membeli perusahaan itu. “Saya menemui Dirut Bank Bumi Daya Pak Omar Abdallah, almarhum. Saat itu saya temui dia di London. Saya katakan padanya  bahwa saya ingin beli perkebunan US$55 juta,” cerita Ical.  “Boleh tidak saya meminjam US$13 juta? Saya cuma mau meminjam satu detik saja,” tanya Ical kepada sang Dirut Bank.

Awalnya ia ditertawakan, tetapi ia dapat meyakinkan Omar. “Ingat, di perusahaan yang akan saya beli itu ada uang US$15 juta. Jadi setelah dapat pinjaman dan perusahaan itu jadi punya saya, saya ambil US$13 juta dan saya kembalikan ke Pak Omar,” begitu alasan Ical sehingga dapat meyakinkan Omar.

Dengan pinjam Bank Bumi Daya sebesar US$13 juta, kini Ical memerlukan dana US$42 juta lagi, yang ia usahakan meminjamnya dari bank lain. Kali ini,   kiatnya bukan lagi dengan janji akan mengembalikannya dengan cepat, melainkan memberi iming-iming bahwa jika pinjaman US$42 juta dikabulkan, Ical akan memberikan keuntungan setahun US$2 juta.

“Dari mana uang USD2 juta yang saya janjikan? Ingat, di perusahaan yang saya beli ada uang US$15 juta. Saya ambil US$13 juta untuk Pak Omar, dan sisanya ada US$2 juta. Nah, makanya saya berani menjanjikan keuntungan US$2 juta,” lanjut Ical.

Pendek cerita, Ical kemudian mendapatkan pinjaman total US$55 juta dan membeli perusahaan tersebut.  Setelah menjadi miliknya, perusahaan itu ia beri nama United Sumatra Plantations, dan pada 1991 berubah nama menjadi Bakrie Sumatra Plantations.

“Ini bukti bahwa dengan modal nol saya bisa membeli dan memulai usaha di bidang perkebunan,” kata Ical.
 

( Ben / Deb )

Berita Terkait

Komentar